Minggu, 13 Desember 2020

Muhammad, Rasul Cinta yang Disalahpahami

    SEBERAPA sayang Rasulullah kepada umatnya? Sangat sayang. Dalam kitab Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, Imam al-Suyuthi mengutip sebuah riwayat dari Ibnu Jarir al-Thabari. Riwayat tersebut berkisah tentang perdebatan antara Rasulullah dengan sekolompok kafir dari kalangan Qurays.

Juru bicara kaum kafir Qurays berkata, “Muhammad, Anda memberi tahu kami bahwa Musa memiliki tongkat yang digunakannya untuk memukul batu, bahwa Isa menghidupkan orang mati, dan bahwa kaum Tsamud diberi unta ajaib. Maka, tunjukkanlah mukjizatmu supaya kami mengakui kebenaranmu.”

“Mukjizat apa yang kalian suka?” tanya Rasulullah.

“Jadikanlah Bukit Shafa sebagai emas.”

“Kalau saya melakukannya, apakah kalian akan mengakui kebenaran saya?”

“Ya. Demi Allah.”

Rasulullah pun berdiri dan berdoa. Jibril lalu turun menemuinya.

“Kalau Anda mau,” ujar Jibril kepada Rasulullah, “Bukit Shafa bisa saja berubah menjadi emas. Tapi, ketika mukjizat itu terjadi dan mereka tetap tidak beriman, pastilah kami benar-benar akan mengazab mereka. Namun, kalau Anda mau, Anda tak usah merespons tantangan mereka. Nantikan saja pertaubatan orang-orang yang bertaubat.”

Opsi mana yang Rasulullah pilih? Al-Quran menuturkan bahwa tatkala dihadapkan pada situasi demikian, sebagian rasul sebelum Muhammad memilih opsi mempertontonkan mukjizat, dengan konsekuensi azab bagi umat mereka.

Tapi perlu dicatat, opsi tersebut mereka pilih bukan karena mereka sudah jenuh dengan perilaku umat mereka yang menentang dan menantang. Bukan pula karena merajuk dan marah. Sama sekali bukan. Para rasul bukan manusia yang lemah hati dan rapuh jiwa.

Standar kemanusiaan mereka sangat tinggi. Belas kasih (compassion) mereka terhadap umatnya tidak usah diragukan lagi. Justru belas kasih itulah yang barangkali mendorong mereka untuk memilih opsi yang pertama. Dengan munculnya mukjizat, diharapkan umat segera menyambut kebenaran tauhid sehingga mereka lekas beranjak dari alam derita ke alam bahagia.

Rupanya, belas kasih Rasulullah Muhammad kepada umatnya lebih besar lagi. Rasulullah sangat sayang kepada umatnya. Karena itu, ia tidak memilih opsi mukjizat dalam arti peristiwa ajaib yang menyalahi hukum alam. Meskipun Jibril sudah siap mengubah Bukit Shafa menjadi bongkahan emas raksasa, Rasulullah tak mengambil fasilitas dari Langit tersebut.

Ia tak ingin umatnya diazab walaupun mereka terus-menerus menentang, menantang, menyakiti, mengitimidasi, bahkan mempersekusinya. Dalam konteks akhlak (bukan dalam konteks keadilan), prinsip Rasulullah adalah kejahatan tidak dibalas dengan kejahatan. Mata tak dibalas dengan mata. Luka tak dibalas dengan luka. Nyawa tak dibalas dengan nyawa.

Kejahatan harus dibalas dengan kebaikan. Dengan kebaikan yang dilandasi kasih sayang, bukan kebaikan politis yang akal-akalan dan sarat kepentingan pribadi. Penganiayaan dibalas dengan maaf dan cinta.

Rasulullah pun sangat mempercayai umatnya, Ia menaruh harapan yang tinggi terhadap mereka. Saat perdebatan “Shafa Emas” itu berlangsung, memang masih banyak penduduk Mekah yang belum beriman. Tapi, suatu saat, sebagian di antara mereka mudah-mudahan bertaubat dan beriman.

Nyatanya, kepercayaan dan harapan tersebut terbukti. Ketika Mekah ditaklukkan oleh umat Islam yang sebelumnya mengungsi dan membangun kekuatan di Madinah, bukan hanya sebagian tetapi hampir seluruh penduduk Mekah bertaubat. Berbondong-bondong mereka mengikrarkan syahadat. Kesuksesan dakwah itu adalah buah dari benih cinta yang bertahun-tahun sebelumnya telah ditaburkan Rasulullah.

Maka, tidak salah dan tidak pula berlebihan jika kita menggelari Rasulullah Muhammad sebagai rasul cinta. Perilakunya adalah eskpresi cinta yang murni dan sejati. Cinta semacam ini sekarang amat dirindukan dan dibutuhkan peradaban yang sedang gelap-gelapnya. Rasulullah adalah teladan cinta. Bukan hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Ia adalah rahmat bagi peradaban, bahkan bagi semesta—dulu, sekarang, dan hingga masa akan datang.

Hanya saja, ajaran dan sosoknya kini disalahpahami banyak orang, terutama di Barat. Karena perilaku negatif segelintir muslim dan karena kesalahpahaman terhadap kandungan al-Quran, Rasulullah kemudian dicap sebagai guru kebencian yang mengajarkan doktrin pertumpahan darah. Betapa besar dan agungnya ketokohan Rasulullah dalam sejarah umat manusia sampai-sampai hingga kini pun, sekitar 1.400 tahun setelah ia wafat, ia masih disalahpahami. Masih kontroversial.

Barangkali, karena kesalahpahaman itu, kemudian di Barat muncul para seniman yang merepresentasikan figur Rasulullah secara negatif dalam karya seni mereka. Dante Alighieri (w. 1321 M) dengan Divina Commedia-nya adalah contoh klasik. Karikatur Rasulullah ala Charlie Hebdo merupakan contoh yang paling gamblang.

Maka, diterbitkan dan dibelanya karikatur tersebut sebaiknya tak sekadar dihadapi dengan demonstrasi, protes, dan boikot, melainkan juga dengan menunjukkan kepada masyarakat nonmuslim bahwa Nabi Muhammad adalah rasul yang sesungguhnya mengajarkan cinta dan kemanusiaan. Rasul yang kepribadian, sikap, dan ajarannya kerap disalahpahami.

Rabu, 13 Mei 2020

SAHABAT NABI YANG BERLEBIHAN DALAM BERIBADAH

Kadang-kadang kita menilai para sahabat Nabi Muhammad secara berlebihan. Seolah-olah mereka seperti malaikat. Tidak pernah salah. Padahal, mereka adalah manusia biasa seperti kita. Mereka juga pernah salah seperti kita.

Bedanya, kita jarang belajar dari kesalahan. Sementara itu, kebanyakan sahabat Nabi mau belajar dari kesalahan yang telah mereka lakukan. Di situlah letak kehebatan sesungguhnya dari para sahabat. Itulah alasan mengapa kita  memuliakan mereka.

Kita mengambil pelajaran dari kesalahan mereka. Kita pun belajar banyak dari upaya mereka untuk berdamai dengan dampak psikis akibat kesalahan tersebut.

Salah seorang sahabat Nabi yang mewariskan pelajaran berharga semacam itu kepada kita adalah Abdullah bin Amr bin al-Ash. Ia diperkirakan lahir pada tahun 616 M. Masuk Islam pada tahun 7 Hijriah. Abdullah lebih dahulu masuk Islam daripada ayahnya. Ketika Nabi meninggal, Abdullah baru berusia 17.

Abdullah terkenal rajin beribadah. Terlalu  bersemangat dalam beribadah. Sedemikian rajinnya sampai-sampai demi ibadah, dia mengabaikan kewajibannya terhadap keluarga.

Setelah Abdullah menikah, ayahnya (Amr bin al-Ash) berkunjung ke rumahnya. Tapi, sang anak tidak menyambut. Amr hanya disambut istri Abdullah. Abdullah rupanya sedang sibuk beribadah. Selalu beribadah tiap malam dan siang. Selalu berpuasa tiap hari.

Amr kemudian bertanya kepada menantunya, "Bagaimana kondisi kalian?"

"Aku," jawab istri Abdullah, "sebenarnya tidak mencela akhlak dan kesalehannya (Abdullah). Tapi, sepertinya dia tidak butuh perempuan."

Mendengar jawaban tersebut, Amr tampaknya kemudian menasihati Abdullah. Tapi, sepertinya sang anak tidak mendengarkan nasihat tersebut. Karena itu, Amr melapor kepada Rasulullah. Amr barangkali berpikir bahwa hati Abdullah hanya akan lunak jika disentuh kata-kata Rasulullah.

Di depan Rasulullah, Amr menuturkan perilaku Abdullah yang beribadah secara berlebihan. Suatu hari, ketika berjumpa dengan Abdullah, Rasulullah pun menegur sahabatnya tersebut untuk tidak berlebihan dalam beribadah.

Tapi, Abdullah justru berkata, "Ya Rasulullah, izinkanlah aku menggunakan tenagaku sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah."

"Jika engkau melakukan itu semua," ucap Rasulullah, "tubuhmu akan lemah. Matamu akan sakit karena tak tidur. Sesungguhnya tubuhmu punya hak. Keluargamu punya hak. Dan para tamu juga punya hak atas dirimu."

Selanjutnya terjadi tawar-menawar jumlah ibadah. Rasulullah menganjurkan Abdullah untuk berpuasa tiga hari saja tiap bulan. Abdullah menawar. Ia merasa kuat mengerjakan puasa lebih banyak. Waktu itu, Abdullah masih muda. Umurnya masih belasan.

Karena Abdullah menawar, Rasulullah menaikkan level anjuran. Puasa dua hari saja tiap minggu, yaitu puasa Senin Kamis. Abdullah menawar lagi. Anjuran terakhir: puasa Nabi Daud. Sehari puasa. Sehari berbuka.

Kecepatan khatam membaca al-Quran juga menjadi arena negosiasi. Abdullah dianjurkan untuk mengkhatamkan al-Quran per 20 hari sekali. Abdullah menawar. Anjuran dinaikkan: 10 hari sekali. Abdullah masih ngotot menawar. Akhirnya, Rasulullah menyarankan Abdullah untuk mengkhatamkan al-Quran tiap 3 hari sekali.

Rasulullah melanjutkan nasihatnya, "Lakukanlah apa yang kuperintahkan. Dan taatilah ayahmu."

Pesan Rasulullah itu amat membekas di hati Abdullah. Ia berusaha keras untuk menaati perintah ayahnya. Sebelum Perang Shiffin pecah (657 M/31 H), Amr bin al-Ash mengajaknya bergabung ke dalam kubu Muawiyah. Perang Shiffin adalah perang sipil dalam tubuh umat Islam yang menghadap-hadapkan dua kubu politik, yaitu kubu Muawiyah bin Abi Sufyan dan kubu Ali bin Abi Thalib.

Abdullah tampaknya ingin netral dalam perang saudara itu. Dia tidak ingin memihak salah satu kubu, apalagi berperang melawan keluarga Rasulullah. Tapi, Amr bin al-Ash menyuruhnya untuk membantu Muawiyah. Karena ingat dengan pesan Rasulullah untuk menaati ayahnya, dengan berat hati Abdullah ikut bertempur di pihak Muawiyah.

Abdullah masih hidup setelah pertempuran usai. Tapi, dia merasa bersalah kepada Ali dan keluarganya. Kesertaan Abdullah dalam Perang Shiffin menjadi beban jiwa sepanjang hayat.

Suatu hari, saat Abdullah sedang berbincang-bincang bersama teman-temannya di depan Masjid Nabawi, putra Ali, yaitu Husein, lewat. Husein beruluk salam kepada mereka. Abdullah menjawab salam tersebut dengan kikuk. Tapi, dia sebenarnya bahagia sekali. Ada tanda bahwa Husein telah memaafkannya. Husein tidak dendam kepadanya.

Karena itu, setelah Husein berlalu dan tak kelihatan lagi, Abdullah berkata seperti ini kepada teman-temannya: "Sukakah kalian aku tunjukkan penghuni bumi yang paling dicintai penduduk langit? Dialah yang baru saja lewat di depan kita. Husein bin Ali. Sejak Perang Shiffin, ia tak pernah bicara denganku. Sungguh, ridanya terhadapku lebih kusukai dari barang berharga apapun juga."

Setelah peristiwa tersebut, Abdullah mengajak Abu Sa'id al-Khudri untuk berkunjung ke rumah Husein. Abu Sa'id adalah sahabat sepuh yang sangat dihormati dan disegani para sahabat lain. Husein tentu juga menghormati Abu Sa'id. Abdullah mengajak Abu Sa'id sebagai penyambung lidahnya supaya upaya Abdullah untuk meminta maaf kepada Husein berjalan lancar.

Abu Sa'id bersedia membantu Abdullah. Mereka pun berkunjung ke rumah Husein. Setelah dibuka dengan basa-basi, obrolan kemudian menjurus pada Perang Shiffin dan permintaan maaf Abdullah.

Kepada Abdullah, Husein bertanya, "Apa alasan Anda ikut berperang di pihak Muawiyah?"

"Suatu hari," jawab Abdullah, "aku diadukan ayahku, Amr bin al-'Ash, kepada Rasulullah. Ayahku berkata, 'Abdullah ini puasa tiap hari dan beribadah tiap malam'. Rasulullah berpesan kepadaku, "Abdullah, salat dan tidurlah. Berpuasa dan berbukalah. Dan taatilah ayahmu.' Sewaktu Perang Shiffin, ayahku mendesakku dengan keras agar ikut bersamanya [untuk membela Muawiyah]. Aku pun pergi. Tapi, demi Allah, [dalam perang itu] aku tak pernah menghunus pedang, melempar tombak, atau pun melepas anak panah."

Husein adalah sosok yang halim dan pemaaf. Dia dan kakaknya, Hasan, dikenal memiliki keihsanan yang tinggi. Saya yakin, bahkan sebelum Abdullah meminta maaf, Husein sudah memaafkannya.

Tapi, bagi Abdullah, selama dia belum meminta maaf langsung kepada Husein, hatinya masih belum tenang. Jiwanya masih memikul beban berat, yaitu rasa bersalah yang mendalam dan tak berkesudahan.

Sesudah meminta maaf kepada Husein dan melihat langsung kelapang-dadaan cucu Rasulullah tersebut, hati Abdullah menjadi tenang. Langkah jiwanya terasa ringan. Ia akhirnya meninggal pada usia 72 tahun saat beribadah di langgarnya.

Kisah ini merupakan gambaran singkat sisi manusiawi salah seorang sahabat. Para sahabat Nabi bukan malaikat. Mereka manusia biasa seperti kita. Sebagai manusia, mereka pernah melakukan kesalahan. Tapi, sebagaimana yang dialami Abdullah bin Amr bin al-Ash, mereka belajar dari kesalahan tersebut sehingga bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik, meskipun proses itu sangat berat dilakoni.

Di situlah letak kemuliaan para sahabat Nabi. Mereka adalah guru mulia. Riwayat hidup mereka menjadi sumber pelajaran berharga bagi kita. Mereka mendidik kita melalui perbuatan, tak hanya melalui ucapan. Semoga Tuhan senantiasa meridai dan merahmati mereka.


Catatan:

1) Halim atau hilm adalah sifat terpuji menurut Islam. Arti halim adalah "tidak membalas dendam meskipun mampu melakukannya". Untuk melakukan kehaliman, diperlukan kesabaran, pemakluman, dan permaafan.

2) Ihsan adalah idealitas moral yang menjadi tujuan agama Islam. Yang dimaksud ihsan adalah apabila Anda diberi, Anda membalas pemberian tersebut dalam jumlah yang berkali lipat lebih banyak. Anda berbagi walaupun kepada orang kikir. Bila Anda dilukai, Anda memaafkan dan tidak menuntut keadilan. Anda berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat terhadap Anda. Sebagai nilai moral, kedudukan ihsan lebih tinggi daripada adil. Ada dua metode untuk mencapai dan menghayati ihsan, yaitu musyahadah (Anda beribadah kepada Allah seolah-olah Anda melihat-Nya) dan muraqabah (Anda beribadah kepada Allah sambil menyadari bahwa Allah melihat Anda).

Jumat, 08 Mei 2020

KETIKA IBNU ABBAS DIRENDAHKAN

Abdullah bin Abbas (619-687 M), yang biasanya disapa "Ibnu Abbas" saja, adalah ahli tafsir pertama dalam sejarah Islam. Dia dijuluki Tarjumanul Quran (juru bicara al-Quran). Ceramah-ceramah tafsirnya kelak dikumpulkan menjadi sebuah kitab yang dikenal sebagai Tafsir Ibnu Abbas.

Ibnu Abbas adalah sepupu Nabi Muhammad. Ibunya, Lubabah, ialah perempuan kedua yang memeluk agama Islam, setelah istri pertama Nabi, yaitu Khadijah. Sejak kecil, Ibnu Abbas sudah hidup bersama Nabi. Saat umat Islam generasi pertama berhijrah dari Mekah ke Madinah, Ibnu Abbas, yang saat itu masih balita, tampaknya juga ikut hijrah.

Di Madinah, Ibnu Abbas tinggal bersama keluarga Nabi. Bersama-sama dengan Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Umar, dan Anas bin Malik, Ibnu Abbas menjadi santri ndalem-nya Rasulullah. Karena itu, hubungan Ibnu Abbas dengan Rasulullah sangat dekat. Dia biasa mengambilkan air wudu dan menyiapkan sandal untuk Rasulullah.

Dia menyaksikan langsung kehidupan sehari-hari Rasulullah dari dekat. Sebagaimana Abdullah bin Umar, Ibnu Abbas sering menyertai Rasulullah dalam perjalanan ke banyak lokasi.

Yang lebih penting, Ibnu Abbas termasuk santri kesayangan Rasulullah. Rasulullah sengaja mengadernya untuk menjadi ulama setelah beliau meninggal. Rasulullah pernah berdoa agar Ibnu Abbas dikaruniai pemahaman mendalam tentang kandungan al-Quran. Tentu saja, doa tersebut terwujud. Ibnu Abbas telah menjadi ulama saat masih muda, sepertinya dalam usia belasan atau dua puluhan.

Pemahaman Ibnu Abbas terhadap al-Quran sangat mendalam. Bahkan, dalam konteks tafsir al-Quran, dia tahu apa yang tak diketahui para sahabat senior. Karena kedalaman, juga keluasan, ilmunya tersebut, setelah Rasulullah meninggal, Ibnu Abbas menjadi rujukan bagi para sahabat dan tabiin untuk bertanya berbagai hal tentang agama Islam, khususnya tentang al-Quran dan al-Hadits.

Para sahabat dan tabiin sering datang ke rumahnya untuk menimba ilmu. Akhirnya, rumah Ibnu Abbas menjadi semacam pesantren. Dia tak hanya memberikan pengajian tentang al-Quran, al-Hadits, dan fikih. Dia juga membuka kelas bahasa Arab, sastra Arab, dan sejarah Arab pra-Islam. Ketiga ilmu ini memang sangat dibutuhkan untuk menafsirkan al-Quran.

Saat menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khattab turut mempromosikan keulamaan Ibnu Abbas. Umar kerap mengajaknya dalam forum musyawarah kenegaraan yang dihadiri para sahabat senior.

Mulanya, mereka merendahkan Ibnu Abbas. Mereka berpikir bahwa Ibnu Abbas masih bau kencur, sama seperti anak mereka. Dia dipandang belum layak berdiskusi tentang masalah-masalah serius bersama mereka. Hal ini diceritakan sendiri oleh Ibnu Abbas.

Suatu waktu, Umar mengundang Ibnu Abbas untuk hadir dalam forum sahabat senior veteran Perang Badar. Salah seorang sahabat senior yang menghadiri forum itu mengajukan protes kepada Umar.

"Kenapa Anda mengundang orang yang sepantaran dengan anak kami?"

"Aku," jawab Umar, "mengundangnya karena posisinya yang sudah Anda ketahui." Maksudnya, posisi Ibnu Abbas dalam kancah keilmuan umat Islam saat itu.

Lalu, Umar melontarkan sebuah pertanyaan. Kepada para sahabat senior, dia bertanya tentang tafsir Surah al-Nashr. Surah ini turun berkaitan dengan peristiwa Fathul Makkah yang menandai kesuksesan dakwah Rasulullah dan kemenangan paripurna umat Islam atas kaum kafir Mekah.

Menurut para sahabat senior, surah tersebut mengandung perintah agar umat Islam memuji Tuhan dan meminta ampun kepada-Nya. Tuhan telah menolong umat Islam sehingga Mekah dapat ditaklukkan.

"Bagaimana pendapatmu?" tanya Umar kepada Ibnu Abbas.

Menurut Ibnu Abbas, Surah Al-Nashr adalah isyarat bahwa Rasulullah tidak lama lagi akan meninggal. Ternyata, penafsiran Umar pun demikian. "Aku," ujar Umar, "tidak mengetahui makna ayat(-ayat) itu selain apa yang Anda (Ibnu Abbas) katakan."

Apa pelajaran yang dapat kita petik dari kisah itu? Pertama, sikap sombong juga ada di kalangan sahabat. Meskipun Rasulullah menilai generasi sahabat sebagai generasi terbaik dalam sejarah Islam, para sahabat pada kenyataannya juga manusia.

Karena itu, tidak arif bila kita mengkultuskan generasi sahabat, seolah-olah mereka adalah manusia sempurna yang tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa. Kultus inilah yang menyebabkan sebagian umat Islam terobsesi meniru gaya hidup para sahabat Nabi, terutama secara lahiriah. Karena kultus ini, mindset umat Islam terperangkap pada masa lalu, tidak adaptif terhadap realitas kekinian, tidak antisipatif terhadap kemungkinan-kemungkinan di masa depan.

Kedua, fenomena direndahkannya ulama sudah terjadi sejak dulu. Sejak zaman sahabat Nabi. Maka, bila saat ini ada figur ulama yang direndahkan, dihina, atau pun dinista, kita tidak usah kaget. Tidak perlu terheran-heran, apalagi marah-marah. Santai saja.

Kalau ulama yang direndahkan tersebut memang memiliki ilmu agana yang benar-benar luas dan mendalam, suatu saat reputasi keilmuannya akan pulih dan mencuat kembali. Bahkan, mungkin pengagum dan pengikutnya akan bertambah banyak. Itulah yang dialami Ibnu Abbas.

Jadi, mari menjalani agama Islam secara santai. Mari belajar Islam dengan santai. Tidak usah sambil ngamuk-ngamuk. Tidak usah buru-buru. Ingin cepat menjadi ustadz. Mari belajar Islam pelan-pelan sembari membersihkan hati supaya kita tidak sesat dan menyesatkan.

Kamis, 30 April 2020

HIKMAH PUASA

Serendah-rendahnya kualitas puasa yang dijalankan, selama bulan Ramadan setidaknya kita mempelajari dua nilai luhur, yaitu jujur dan sabar.

Saat berpuasa, tidak ada yang mengawasi puasa kita selain diri sendiri. Orang lain tak tahu pasti apakah kita benar-benar puasa ataukah kita hanya berakting puasa. Dengan demikian, puasa menguatkan kejujuran kita.

Puasa pun mengokohkan sifat sabar pada diri kita. Puasa hampir sinonim dengan sabar. Secara harfiah, arti "shaum" (padanan Arab untuk kata "puasa") adalah "menahan" (imsak). Maksudnya: menahan diri. Tindakan menahan diri hanya bisa dilakukan jika ada kesabaran. Tindakan menahan diri itu sendiri merupakan indikator kesabaran.

Kejujuran dan kesabaran yang diperoleh dari puasa Ramadan akan sangat bermanfaat. Kini kedua hal itu malah sangat relevan dan dibutuhkan.

Berkat kemajuan teknologi informasi, kita sekarang hidup pada era yang serba cepat. Teknologi informasi membangun kultur ingin cepat. Semboyannya, lebih cepat, lebih baik. Kecepatan dipandang sebagai kebaikan. Kecepatan menjadi idealitas yang harus dikejar.

Tapi, harus dipertanyakan, apa benar kecepatan selalu baik? Apa benar yang cepat itu dengan sendirinya pasti baik? Belum tentu. Dalam banyak konteks, kecepatan justru menimbulkan masalah. Kecepatan boleh jadi merupakan ketergesa-gesaan belaka.

Dalam sekian konteks, untuk menyelasaikan masalah-masalah pelik, kita justru memerlukan kelambanan, tepatnya kehati-hatian dan ketelitian. Kita butuh kesabaran untuk menyelasaikan sekian masalah rumit.

Kerumitan masalah sering dibayangkan bagai benang kusut. Benang kusut hanya dapat diurai dengan kesabaran. Mengurai benang kusut secara cepat justru akan semakin memperkusut benang tersebut. Ini relevansi pertama puasa Ramadan di zaman revolusi teknologi informasi kini.

Relevansi kedua, sebagaimana sudah direnungkan bersama, puasa Ramadan membentuk sikap jujur. Telah terbukti bahwa teknologi informasi berhasil menyebarkan pandemi kepalsuan.

Identitas yang kita pajang di media sosial tak sepenuhnya mencerminkan identitas kita di dunia nyata sehari-hari. Diri kita mengganda dan terbelah. Di dunia maya, kita tampil sebagai diri yang telah dirias dan dihias sedemikian rupa. Sementara itu, di dunia nyata, barangkali kita terpaksa melakoni peran yang bopeng dan cacat, yang tidak kita inginkan.

Kita kemudian merindukan kesejatian. Dalam kondisi demikian, kejujuran akan menyelematkan kita dari kehampaan rohani dan kemuakan terhadap diri sendiri. Kejujuran bagai oase di tengah padang pasir. Puasa Ramadan menuntun kita menuju oase kultural tersebut.

Maka, serendah-rendahnya kualitas puasa Ramadan kita, kita akan tetap memetik manfaat dari tirakat ini, asalkan kita melakoninya dengan ikhlas. Puasa Ramadan adalah ibadah yang manusiawi. Puasa Ramadan tidak berat.

Kita hanya disuruh puasa sejak subuh hingga magrib, sekitar 14 sampai 15 jam saja. Tiap hari selama bulan Ramadan. Tidak rasional mengeluhkan perintah yang mampu kita jalankan.

Senin, 27 April 2020

LEVEL PUASA

Tiap tahun, umat Islam berpuasa Ramadan. Tapi, kenapa puasa kita tak berbekas? Seolah tanpa hasil, kecuali hanya lapar dan haus?

Kita barangkali sudah sering mendengar pertanyaan tersebut. Sebegitu seringnya sampai-sampai kita bosan mendengarnya.

Banyak ustaz yang sudah berusaha memberikan jawaban. Biasanya, mereka menggarisbawahi faktor keikhlasan dan kejujuran. Kalau dikerjakan tidak ikhlas, bagaimana puasa Anda bisa efektif? Tanpa kejujuran, bagaimana puasa Anda bisa bermanfaat?

Saya bukan ustaz. Saya tidak berniat menjawab pertanyaan di awal tulisan ini dalam rangka mencerahkan dan menyadarkan Anda. Saya saja masih gelap kok. Saya saja belum sadar kok.

Kalau pun saya akhirnya merenungi pertanyaan tersebut, saya meletakkan hasil renunhan sebagai nasihat untuk
diri sendiri. Saya akan bersyukur sekali kalau Anda tergerak mengambil manfaat dari hasil renungan saya. Bila tidak, ya tidak apa-apa.

Lalu, kenapa puasa kita tak berbekas? Dalam kitab Ihya Ulumiddin, Imam al-Ghazali memaparkan tiga level puasa.

Pertama, puasa awam. Ini level paling rendah. Di puasa level ini, kita hanya menahan nafsu makan, minum, dan syahwat dari subuh hingga magrib. Puasa level ini sama sekali tak membanggakan. Sebab, anak-anak saja sanggup melalukannya.

Puasa seperti ini membuahkan lapar dan haus. Kita merasa senang dengan kemeriahan Ramadan. Saat dini hari, ikut ramai-ramai membangunkan sahur. Saat sore hari, ikut ramai-ramai ngabuburit dan berbuka. Saat malam hari, ikut ramai-ramai salat tarawih dan bertadarus al-Quran. Selain lapar dan haus, yang kita peroleh dari puasa Ramadan hanya kesenangan melakukan ritual agama secara ramai-ramai itu. Perbaikan diri? Entah di mana.

Puasa level kedua, level yang lebih tinggi, dilakukan oleh sedikit umat. Imam al-Ghazali menyebut mereka sebagai golongan khos atau khowas. Saat menjalankan puasa, mereka tidak hanya menahan nafsu makan, minum, dan syahwat. Mereka juga mengendalikan seluruh anggota tubuh supaya tidak berbuat dosa.

Misalnya, tangan dijaga dari mencuri. Mulut dijaga dari nggosip. Mata dijaga dari objek-objek pandangan pornografis. Telinga dijaga dari mendengar obrolan tentang aib orang lain. Dan seterusnya.

Puasa level kedua ini lumayan berbekas. Bila dilakukan dalam jangka lama, puasa level kedua ini akan membentuk karakter baik.

Karakter bersifat tetap dan permanen. Setelah Ramadan berlalu, karakter baik yang terbentuk berkat puasa sebulan penuh, masih melekat. Karakter baik itu akan menjaga kita selama setahun ke depan, menjelang kedatangan Ramadan berikutnya.

Namun demikian, puasa level kedua sungguh berat dijalankan manakala kita tidak mengetahui kuncinya. Nah, kunci puasa level dua justru tersembunyi dalam puasa level di atasnya, yaitu puasa level tiga.

Hanya sedikit umat yang menjalani puasa level dua. Lebih sedikit lagi yang menjalani puasa level tiga. Mereka ini, yang jumlahnya amat sangat sedikit ini, disebut Imam al-Ghazali sebagai golongan khushusul khos atau khowashul khowas.

Yang mereka puasai tak sekadar nafsu perut dan nafsu kelamin, juga tak sekadar anggota tubuh. Yang mereka kontrol kuat-kuat adalah pikiran. Dengan berpuasa, mereka membangun Kesadaran dan menggunakan Kesadaran itu untuk mengawasi gerak-gerik pikiran sendiri.

Kalau gerak-gerik pikiran terkontrol, maka gerak-gerik anggota badan dengan sendirinya ikut terkontrol. Nafsu perut dan nafsu kelamin pun ikut terkontrol. Puasa level tinggi ini, puasa pikiran ini, tentu saja membekas.

Saat melakukan puasa pikiran ini, kita berlatih berpikir yang baik-baik. Pikiran buruk dan pikiran jahat dijauhi. Karena puncak kebaikan adalah Tuhan, maka saat menjalani puasa pikiran, kita berusaha untuk selalu ingat Tuhan. Tuhan selalu dihadirkan dalam hati. Hal ini dinamakan zikir dengan hati (al-dzikr bi al-qalb).

Puasa pikiran adalah puasa yang dijalankan leluhur Nusantara, nenek moyang kita. Buktinya apa? Leluhur Nusantara senantiasa mengenakan ikat kepala atau memakai tutup kepala.

Ikat kepala dan tutup kepala adalah lambang. Ikat kepala melambangkan pikiran yang diikat, dikekang, dikendalikan, dijaga, atau dikontrol. Penutup kepala melambangkan pikiran yang dilindungi dari bisikan-bisikan yang negatif, buruk, atau jahat. Sebab itulah, tata krama leluhur Nusantara tinggi sekali. Mereka hobi puasa. Hobi membersihkan pikiran. Mengontrol pikiran. Melindungi pikiran.

Bagaiamana dengan kita? Kita sudah dikaruniai bulan Ramadan tiap tahun. Tapi, berkah agung itu tidak kita manfaatkan secara maksimal. Kita tidak menjalankan puasa pikiran. Bahkan, kita tidak mengenal puasa semacam itu.

Yang kita ketahui dan jalani hanya puasa perut dan kelamin. Itu saja sudah membuat kita puas. Bahkan, sudah melambungkan kebanggaan dan kecongkakan kita setinggi langit.

Hanya karena telah menjalankan puasa perut dan kelamin, kita sudah merasa paling suci sendiri, paling saleh sendiri, paling agamis sendiri, dan paling beriman sendiri. Jika demikian, bukannya membuahkan manfaat, puasa Ramadan justru mendatangkan mudarat bagi kita.

Kita disuruh puasa supaya kenal diri sendiri sehingga tidak sombong. Tapi, kita malah bersikap sombong justru karena berpuasa. Disuruh mulia, kok malah suka rela menjadi hina dina. Dibukakan jalan untuk mendekat ke Tuhan, kok malah menjauh.

Melihat perilaku kita, apa malaikat tidak garuk-garuk kepala? Setan saja geleng-geleng kepala melihat kita....

Minggu, 26 April 2020

MEMBACA TITAH, MENGENAL DIRI (7)

Dalam hal ini, kata "akal"--sebagai takwil dari al-qalam--tampaknya perlu kita pahami secara lebih subtantif. Akal di sini barangkali lebih pas bila dipahami sebagai instrumen epistemologis, peralatan mental yang dipakai manusia untuk memperoleh ilmu.

Dan instrumen epistemologis ini tak hanya "akal" dalam pengertian modern yang beroperasi menurut hukum-hukum logika. Masih ada satu instrumen epistemologis lain yang memampukan manusia menerima pengetahuan suci secara iluminatif, tanpa melalui proses bernalar.

Instrumen epistemologis ini dalam filsafat Yunani Kuno dinamakan intelektus atau inteleksi. Melalui intelektus ini, para sufi menerima anugerah ilmu laduni. Melalui intelektus ini pula, para nabi dan rasul menerima wahyu.

Demikian makna yang ditemukan jika kita melihat qalam atau akal dari sisi manusia. Lalu, kalau kita memposisikan qalam pada ayat ke-4 wahyu pertama tersebut sebagai qalam-nya Tuhan, bukan qalam-nya manusia, maka insight apa yang kita dapatkan?

"Barangkali" mirip insight yang kita dapatkan pada ayat pertama. Semesta makhluk adalah aksara yang terhampar. Rangkaian aksara membentuk kata. Rangkaian kata membentuk kalimat. Rangkaian kalimat membentuk alinea. Rangkaian alinea membentuk wacana. Rangkaian wacana membentuk buku/kitab. Jadi, makhluk adalah hasil goresan pena Ilahi.

Itu artinya, makhluk juga menjadi media ajar yang digunakan Sang Guru untuk mendidik manusia. Karena itu, iqra! Bacalah makhluk untuk menemukan ilmu yang telah diturunkan Ilahi ke bumi.
Jika engkau ingin menggapai ilmu kerendahan hati dan kekuatan yang tak terkalahkan, bacalah air. Jika engkau ingin menguasai ilmu cinta, bacalah matahari yang memberi tanpa pandang bulu. Jika engkau ingin mendalami ilmu kesabaran, bacalah tanah yang diinjak dan dicangkul, yang menumbuhkan berbagai tanaman. Singkatnya, jika engkau ingin memiliki ilmu yang belum engkau ketahui, bacalah makhluk.

Dengan qalam, Tuhan mengajari manusia ilmu yang belum diketahuinya. 'Allama al-insan ma lam ya'lam. Manusia belajar dengan berbagai instrumen epistemologis. Dengan rasio. Juga dengan intelektus. Manusia belajar dengan membaca hamparan semesta makhluk, termasuk membaca dirinya sendiri sebagai makhluk. Manusia belajar dengan membaca al-Quran al-Takwiny. Titah sak wantah.

Apa kita sudah membaca titah sak wantah? Apa kita sudah membacanya hingga jantung hakikat? Apa kita sudah menjalankan perintah Tuhan dalam wahyu pertama? Atau, kita telah merasa cukup berilmu dengan hanya membaca al-Quran al-Tadwiny, sebuah kitab suci yang ditulis bukan dalam bahasa ibu kita dan yang diturunkan lebih dari 1400 tahun silam?

Mari membaca. Bukan hanya membaca al-Quran al-Tadwiny. Mari kita baca juga al-Quran al-Takwiny. Mari kita telusuri hakikat titah sak wantah. Mari ber-tafakkur. Mari ber-tadabbur. Supaya kita melihat wajah-Nya di mana pun. Supaya kita bisa mengahayati keihsanan. Supaya diri kita kian terhiasi sifat-sifat indah.

Wallahu a'lam.

Rahayu. Rahayu. Rahayu.

MEMBACA TITAH, MENGENAL DIRI (6)

Dengan sarana apa Dia mencurahkan kelimpahan ilmu-Nya kepada manusia? Dengan instrumen apa Sang Guru mengajari al-insan? Dengan al-qalam. Dengan pena.

Susah memahami makna ayat ke-4 dari wahyu pertama bila pena dimengerti secara harfiah. Pena tersebut tentu metafora. Sekali lagi, bacalah fenomena hingga nenembus jantung hakikatnya.

Pada zaman Nabi, pena dan ilmu tak bisa dipisahkan. Pena adalah alat untuk merekam, menulis, mengembangkan, dan mewariskan ilmu. Para pengarang hikayat paham bahwa pena yg digunakannya untuk menulis telah menciptakan realitas dunia dalam ceritanya.

Pada diri manusia, juga ada sesuatu yang memiliki kemampuan menciptakan realitas, yaitu pikiran. Penjelasannya begini. Pikiran menciptakan perasaan. Pikiran yang positif membentuk suasana hati yang juga positif. Pikiran gelap memunculkan emosi negatif.

Proses selanjutnya, perasaan menciptakan perbuatan atau tindakan. Bila kita sedang bahagia, perbuatan yang kita lakukan cenderung baik. Sebaliknya, bila hati dikuasai amarah, perbuatan kita mirip hewan tak berakal.

Perbuatan yang dilakukan berulang-ulang kemudian menciptakan perangai, watak, atau karakter. Karakter menciptakan realitas kita di masa depan. Maka, bila rantai sebab akibat ini diperhatikan ujung dan pangkalnya,  tampak bahwa pikiran kita menciptakan realitas kehidupan kita di masa mendatang.

Fungsi kreatif pikiran bagi al-insan mirip seperti fungsi kreatif pena bagi pengarang hikayat. Pena adalah alat untuk menulis, mengembangkan, dan mengajarkan ilmu. Bagi manusia secara individual, pikiran pun berfungsi untuk "menulis", mengembangkan, memahami, dan mengajarkan ilmu.

Barangkali karena alasan-alasan di atas, al-Ghazali menafsirkan al-qalam sebagai akal. Tapi, al-Ghazali juga sampai pada kesimpulan demikian setelah dia membandingkan isi dua hadis yang menerangkan makhluk yang pertama kali diciptakan.

Hadis pertama menyatakan bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan adalah akal. Hadis kedua mengatakan bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan adalah pena. Hadis mana yang benar? Menurut al-Ghazali, kedua hadis tersebut benar. Sebab, pena adalah metafora bagi akal. Pena ditakwilkan sebagai akal.

Jika takwil al-Ghazali itu benar, maka makna ayat ke-4 dari wahyu pertama menjadi "(Dia) yang mengajar dengan akal". Sebagai Sang Guru, Tuhan mengajari manusia dengan akal yang dimiliki manusia itu sendiri? Tapi, akal yang seperti apa? Apa dengan akal yang ngakali? Apa dengan akal yang diperbudak dan ditunggangi nafsu?

(Bersambung....)

MEMBACA TITAH, MENGENAL DIRI (5)

Pertolongan dan kemurahan-Nya yang paling besar bagi manusia adalah ilmu. Berkat ilmu, manusia bisa mencari makan dengan mudah. Berkat ilmu, manusia bisa membuat pakaian yang melindungi dan menghiasi tubuhnya.

Berkat ilmu, manusia bisa membuat tempat tinggal beraneka macam, mulai yang paling kokoh sampai yang paling indah. Berkat ilmu, kedudukan manusia menjadi lebih tinggi dari tumbuhan, binatang, jin, bahkan malaikat. Berkat ilmu, manusia menjadi pemimpin seluruh dimensi kehidupan di bumi, bertahta sebagai wakil Sang Pencipta.

Maka, logis bila pada ayat ke-4 dan ke-5 dari wahyu yang pertama, Tuhan mengenalkan dirinya sebagai Sang Guru (al-Mu'allim) bagi manusia. Kita tentu masih ingat, kedua ayat itu berbunyi: "Alladzi 'allama bi al-qalam; 'allama al-insana ma lam ya'lam". Dia (Allah) mengajar dengan "pena". Mengajar al-insan apa yang belum diketahuinya.

Ada makna implisit di situ, yaitu manusia hakikatnya tidak tahu apa-apa, jika tak diberi tahu Sang Guru. Manusia pada dasarnya tak punya ilmu sehuruf pun. Dengan kata lain, kebodohan adalah hakikat manusia. Syukurnya, Sang Pemurah berkenan mengajari dia sebagai al-insan, yaitu sebagai makhluk yang menyadari realitas kelemahannya sehingga dia bersikap rendah hati.

Rendah hati adalah kunci untuk membuka gudang ilmu Ilahi yang tak terbatas. Jika tak rendah hati, pintu hati tertutup. Tak mau menerima ilmu dari Ilahi walaupun ilmu itu mendatanginya terus dari detik ke detik tanpa pernah berhenti. Sebagai Sang Pemurah, Dia tak pelit ilmu. Kita sendirilah yang menolak curahan ilmu dari-Nya yang melimpah ruah.

(Bersambung....)

MEMBACA TITAH, MENGENAL DIRI (4)

Ketika al-insan mulai mengenal hakikat dirinya, dia diberi kesadaran baru bahwa Tuhannya adalah yang paling pemurah di antara semua pemurah. Ayat ketiga dari wahyu pertama berbunyi: Iqra' wa rabbuka al-Akram.

Terjemah harfiahnya, "Bacalah! Dan Tuhanmu Yang Paling Pemurah". Sering juga diterjemahkan, "Bacalah! Dan Tuhanmu yang paling mulia". Kedua terjemahan itu benar. Tapi, yang lebih sesuai dengan struktur semantik wahyu pertama adalah terjemahan pertama.

Al-Akram, al-Karim, ikram, dan seluruh derivasi morfologisnya termasuk kata yang musytarak, yaitu kata yang mengandung tak hanya satu arti. Kata jenis ini bertebaran dalam al-Quran. Al-Akram dapat ber-arti "yang paling pemurah", dapat pula ber-arti "yang paling mulia".

Orang Arab, setidaknya pada zaman Nabi Muhammad, mengasosiasikan kemurahan, kedermawanan, atau kebersediaan + kesukaan menolong sesama, dengan kemuliaan. Para pemimpin kabilah diharapkan adalah orang yang paling pemurah (al-akram) dalam kabilah tersebut.

Tuhan, sebagai al-Akram, menduduki puncak kemurahan dan kedermawanan. Kalau Anda pernah berjumpa dengan orang yang paling ringan tangan menolong pihak lain, Tuhan setriliyun kali lebih ringan tangan.

"Ud'uni," ujar-Nya "astajib lakum." Panggillah Aku. Undanglah Aku. Mintalah kepada-Ku. Aku akan menjawab panggilanmu. Aku akan memenuhi undanganmu. Aku akan mengabulkan permintaanmu. Berdasarkan kearifan, kebijaksanaan, dan ilmu-Ku. Tidak berdasarkan nafsu, akal, atau ilmumu.

Manusia hakikatnya memang lemah. Tapi, tenang saja, sebab Sang al-Akram senantiasa siap, berkenan, dan mampu menolongnya. Bila engkau meminta tolong pada para pemimpin yang karim itu, boleh jadi suatu saat engkau akan kecewa. Entah karena dia tidak bersedia membantumu sebab salah paham terhadapmu. Entah karena dia memang tak mampu membantumu. Pemimpin juga manusia. Meskipun terlihat kuat, dia juga punya kelemahan dan sisi lemahnya sendiri.

Sementara itu, Sang al-Akram tak akan mengecewakanmu. Tak pernah. Dia memiliki segalanya. Dia mampu melalukan segalanya. Bukankah dia rabbuka alladzi khalaq? Bukankah Dia adalah Sang Pencipta?

(Bersambung....)

Sabtu, 25 April 2020

MEMBACA TITAH, MENGENAL DIRI (3)

Walaupun ajaran moral pertama yang diterima Nabi adalah soal kerendahan hati, itu bukan berarti bahwa Nabi tidak rendah hati. Mengapa wahyu pertama mengajarkan kerendahan hati dulu sebelum moralitas-moralitas luhur lainnya? Kita tak tahu pasti. Wallahu a'lam.

Akal kita hanya sanggup bermungkin-mungkin. Mungkin karena rendah hati adalah inti moralitas dalam Islam. Mungkin karena kerendahan hati merupakan kunci membuka pintu hidayah. Mungkin karena kerendahan hati mengantar kita berjumpa Ilahi sedangkan ketinggian hati niscaya menyeret kita masuk ke dalam neraka. Mungkin....

Setelah peristiwa Isra' Mi'raj ketika Nabi menerima langsung perintah salat lima waktu, kerendahan hati dilambangkan dengan gerakan sujud. Sujud adalah tanda kemakrifatan. Sujud menunjukkan bahwa pelakunya telah mengenal siapa hakikat dirinya (ma'rifat al-nafs).

Dia hanyalah al-'alaq. Di hadapan Sang Pencipta, dia tak memiliki kebanggaan diri dan kehormatan diri sedikit pun. Dalam sujud, kepalanya yang mulia itu harus menyentuh tanah yang diinjak-injak kakinya sendiri, yang berada di bawah kakinya sendiri.

Saat sujud, eksistensinya seolah tiada. Bukan, bukan seolah tiada. Saat sujud, dia sadar betul bahwa eksistensinya memang sungguh-sungguh tidak ada, tertelan habis dalam eksistensi Sang Maha Agung.

(Bersambung....)

Jumat, 24 April 2020

MEMBACA TITAH, MENGENAL DIRI (2)

Makhluk yang pertama kali perlu dibaca justru adalah diri kita sendiri, al-insan. Sebab, bagaimana mungkin kita mampu mengenali makhluk lain secara benar kalau kita beleum mengenal diri sendiri? Bagaiamana mungkin kita bisa melihat "wajah Tuhan" pada hamparan semesta makhluk bila kita belum melihat "wajah Tuhan" pada diri sendiri?

Isyarat maknawi ini terdapat dalam ayat kedua wahyu pertama: khalaqa al-insana min 'alaq. Biasanya diterjemahkan begini: Dialah (Allah) yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Para mufasir modern yang berambisi mempertemukan al-Quran dan sains menjelaskan bahwa segumpal darah itu adalah zigot dalam rahim perempuan yang sedang hamil muda.

Memang, zigot berbentuk seperti segumpal darah yang melekat. Yang dimaksud segumpal darah (al-'alaq) boleh jadi memang zigot itu. Tapi, jangan lupa bahwa ayat pertama dari wahyu pertama menyiratkan pesan bahwa saat membaca makhluk, kita tak boleh terperangkap pada fenomena empiris. Kita harus menembus jantung hakikatnya.

Maka pertanyaannya, apakah hakikat al-'alaq itu? Analisis semantik memberi kita percikan petunjuk. Akar kata al-'alaq adalah 'A-L-Q. Arti dasarnya adalah menempel, melekat, bergantung, dependen.

Dengan demikian, al-'alaq adalah sesuatu yang lemah, yang tak mampu berdiri sendiri, yang selalu membutuhkan pertolongan pihak lain. Zigot tidak bisa mencari makan sendiri. Hidup-matinya bergantung sepenuhnya pada asupan nutrisi yang secara alamiah disalurkan kepadanya.

Demikianlah hakikat manusia, al-insan, atau dumadi. Ia lemah. Ia tak berdaya. Ia tak mampu berdiri sendiri. Ia selalu membutuhkan pertolongan pihak lain. Manusia tidak bisa membuat makanannya sendiri. Dia butuh bantuan petani yang mengolah sawah. Dia butuh bantuan tanaman padi yang mengorbankan butir-butir padi yang merupakan bagian dari dirinya sendiri.

Manusia butuh pengorbanan ayam yang rela mati demi kehidupan manusia. Manusia butuh bantuan tanah yang menumbuhkan padi. Manusia butuh bantuan air yang "menghidupkan" tanah. Manusia butuh bantuan cacing dan dedaunan kering yang menyuburkan tanah.

Manusia butuh bantuan angin yang karena gerakannya terciptalah hujan. Manusia butuh bantuan matahari yang tanpanya tak satu pun tanaman tumbuh. Pada akhirnya, manusia butuh bantuan Tuhan yang tidak saja sangat pemurah (al-Karim), tetapi juga yang paling pemurah di antara semua pemurah (al-Akram).

Jika nyatanya manusia selemah itu, apakah kesombongannya rasional? Ajaran moral pertama yang diberikan Tuhan kepada Nabi Muhammad (melalui wahyu pertama) adalah kerendahan hati. Andhap asor. Aja dumeh. Jangan sok. Jangan merasa lebih. Aja adigang, adigung, adiguna. Jangan petentengan dan congkak. Durung luhur yen durung wani ashor. Kita belum mencapai ketinggian derajat spritual jika kita belum berani rendah.

(Bersambung....)

Kamis, 23 April 2020

MEMBACA TITAH, MENGENAL DIRI (1)

Wahyu yang pertama kali diterima Nabi Muhammad adalah perintah untuk membaca. Bacalah! Iqra'! Apa yang harus ia baca saat itu ? Tidak mungkin kitab al-Quran. Sebab, saat itu, al-Quran yang tercetak secara utuh dari Surat al-Fatihah sampai Surat al-Nas belum ada wujud fisiknya.

Wahyu pertama tidak menyebut objek bacaan secara eksplisit. Wahyu pertama hanya menggarisbawahi cara membacanya, yaitu bismi rabbika alladzi khalaq. Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.

Karena ayat itu tidak menyebut secara khusus objek apa yang harus dibaca, banyak ulama kemudian menafsirkan wahyu pertama sebagai perintah untuk membaca apapun. Objek bacaan tak dibatasi. Apapun boleh dibaca asalkan dengan menyebut nama Tuhan Sang Pencipta.

Daripada penafsiran di atas--yang agak jauh dari struktur semantik wahyu pertama secara keseluruhan (Q.S. al-'Alaq: 1-5), saya lebih merasa cocok dengan versi lain penafsiran wahyu pertama. Al-Quran adalah kalam, firman, ucapan, atau kata-kata Ilahi. Dan kata-kata Ilahi termanifestasi dalam dua bentuk.

Pertama, al-Quran al-Tadwiny, yaitu kalam Ilahi yang tercetak sebagai kitab suci al-Quran yang tersusun dari huruf-huruf Hijaiyah, yang menggunakan bahasa Arab, yang dimulai dengan al-Fatihah dan ditutup dengan al-Nas, yang kita baca secara tartil atau tilawah. Kedua, al-Quran al-Takwiny, yaitu kalam Ilahi berupa hamparan semesta makhluk-Nya. Seluruh ciptaan Ilahi adalah kalam-Nya.

.... Idza arada syai-an, an yaqula lahu "kun" fa yakun. Begitu disebutkan dalam Q.S. Yasin: 82. "....Bila Tuhan menghendaki sesuatu (termasuk menciptakan sesuatu), Dia berkata "kun!"  ("jadilah!"), maka seketika jadilah sesuatu itu."

Mengacu pada ayat ini, para sufi lalu menyebut semesta makhluk sebagai "kunhu". Kun-nya Dia. Ucapan Ilahi. Sabda Ilahi. Kalam Ilahi. Dalam bahasa Jawa disebut "titah" atau "titah sak wantah". Manusia, yang termasuk titah Ilahi, secara khusus disebut "dumadi" (yang dijadikan). Yang diciptakan.

Titah sak wantah ini pada hakikatnya adalah al-Quran al-Takwiny. Surat al-Fatihah menamakannya "al-'alamin", yaitu apa pun selain Tuhan (ma siwallah). Seluruh objek pengetahuan Ilahi. Sarwa sekalian alam. Titah sak wantah.

Al-Quran al-Takwiny inikah objek yang Nabi Muhammad disuruh membacanya saat wahyu pertama turun? Boleh jadi memang demikian. Sebab, dalam ayat pertama dari wahyu pertama itu, Tuhan mengenalkan diri-Nya kepada Nabi sebagai Tuhanmu yang "menciptakan" (rabbuka alladzi khalaq).

Maka, maksud implisit ayat pertama dari wahyu pertama barangkali begini: Bacalah hamparan semesta ciptaan hingga ke jantung hakikatnya. Jangan hanya membaca kulitnya saja. Jangan hanya membaca fenomena lahiriahnya semata. Jangan terpaku dan terjebak pada penampilan lahiriah belaka.

Dengan metode pembacaan yang menembus jantung hakikat, saat engkau membaca ciptaan (makhluk), engkau akan melihat siapa penciptanya (al-Khalik). Bila engkau mempelajari makhluk, engkau akan mengenal Yang Menciptakan (alladzi khalaqa).

(Bersambung....)