SEBERAPA
sayang Rasulullah kepada umatnya? Sangat sayang. Dalam kitab Lubab al-Nuqul
fi Asbab al-Nuzul, Imam al-Suyuthi mengutip sebuah riwayat dari Ibnu Jarir
al-Thabari. Riwayat tersebut berkisah tentang perdebatan antara Rasulullah
dengan sekolompok kafir dari kalangan Qurays.
Juru
bicara kaum kafir Qurays berkata, “Muhammad, Anda memberi tahu kami bahwa Musa
memiliki tongkat yang digunakannya untuk memukul batu, bahwa Isa menghidupkan
orang mati, dan bahwa kaum Tsamud diberi unta ajaib. Maka, tunjukkanlah
mukjizatmu supaya kami mengakui kebenaranmu.”
“Mukjizat
apa yang kalian suka?” tanya Rasulullah.
“Jadikanlah
Bukit Shafa sebagai emas.”
“Kalau
saya melakukannya, apakah kalian akan mengakui kebenaran saya?”
“Ya.
Demi Allah.”
Rasulullah
pun berdiri dan berdoa. Jibril lalu turun menemuinya.
“Kalau
Anda mau,” ujar Jibril kepada Rasulullah, “Bukit Shafa bisa saja berubah
menjadi emas. Tapi, ketika mukjizat itu terjadi dan mereka tetap tidak beriman,
pastilah kami benar-benar akan mengazab mereka. Namun, kalau Anda mau, Anda tak
usah merespons tantangan mereka. Nantikan saja pertaubatan orang-orang yang
bertaubat.”
Opsi
mana yang Rasulullah pilih? Al-Quran menuturkan bahwa tatkala dihadapkan pada
situasi demikian, sebagian rasul sebelum Muhammad memilih opsi mempertontonkan
mukjizat, dengan konsekuensi azab bagi umat mereka.
Tapi
perlu dicatat, opsi tersebut mereka pilih bukan karena mereka sudah jenuh
dengan perilaku umat mereka yang menentang dan menantang. Bukan pula karena
merajuk dan marah. Sama sekali bukan. Para rasul bukan manusia yang lemah hati
dan rapuh jiwa.
Standar
kemanusiaan mereka sangat tinggi. Belas kasih (compassion) mereka
terhadap umatnya tidak usah diragukan lagi. Justru belas kasih itulah yang
barangkali mendorong mereka untuk memilih opsi yang pertama. Dengan munculnya
mukjizat, diharapkan umat segera menyambut kebenaran tauhid sehingga mereka
lekas beranjak dari alam derita ke alam bahagia.
Rupanya,
belas kasih Rasulullah Muhammad kepada umatnya lebih besar lagi. Rasulullah
sangat sayang kepada umatnya. Karena itu, ia tidak memilih opsi mukjizat dalam
arti peristiwa ajaib yang menyalahi hukum alam. Meskipun Jibril sudah siap
mengubah Bukit Shafa menjadi bongkahan emas raksasa, Rasulullah tak mengambil
fasilitas dari Langit tersebut.
Ia
tak ingin umatnya diazab walaupun mereka terus-menerus menentang, menantang,
menyakiti, mengitimidasi, bahkan mempersekusinya. Dalam konteks akhlak (bukan
dalam konteks keadilan), prinsip Rasulullah adalah kejahatan tidak dibalas
dengan kejahatan. Mata tak dibalas dengan mata. Luka tak dibalas dengan luka.
Nyawa tak dibalas dengan nyawa.
Kejahatan
harus dibalas dengan kebaikan. Dengan kebaikan yang dilandasi kasih sayang,
bukan kebaikan politis yang akal-akalan dan sarat kepentingan pribadi.
Penganiayaan dibalas dengan maaf dan cinta.
Rasulullah
pun sangat mempercayai umatnya, Ia menaruh harapan yang tinggi terhadap mereka.
Saat perdebatan “Shafa Emas” itu berlangsung, memang masih banyak penduduk
Mekah yang belum beriman. Tapi, suatu saat, sebagian di antara mereka
mudah-mudahan bertaubat dan beriman.
Nyatanya,
kepercayaan dan harapan tersebut terbukti. Ketika Mekah ditaklukkan oleh umat
Islam yang sebelumnya mengungsi dan membangun kekuatan di Madinah, bukan hanya
sebagian tetapi hampir seluruh penduduk Mekah bertaubat. Berbondong-bondong
mereka mengikrarkan syahadat. Kesuksesan dakwah itu adalah buah dari benih
cinta yang bertahun-tahun sebelumnya telah ditaburkan Rasulullah.
Maka,
tidak salah dan tidak pula berlebihan jika kita menggelari Rasulullah Muhammad
sebagai rasul cinta. Perilakunya adalah eskpresi cinta yang murni dan sejati.
Cinta semacam ini sekarang amat dirindukan dan dibutuhkan peradaban yang sedang
gelap-gelapnya. Rasulullah adalah teladan cinta. Bukan hanya bagi umat Islam,
tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Ia adalah rahmat bagi peradaban, bahkan
bagi semesta—dulu, sekarang, dan hingga masa akan datang.
Hanya
saja, ajaran dan sosoknya kini disalahpahami banyak orang, terutama di Barat.
Karena perilaku negatif segelintir muslim dan karena kesalahpahaman terhadap
kandungan al-Quran, Rasulullah kemudian dicap sebagai guru kebencian yang
mengajarkan doktrin pertumpahan darah. Betapa besar dan agungnya ketokohan
Rasulullah dalam sejarah umat manusia sampai-sampai hingga kini pun, sekitar
1.400 tahun setelah ia wafat, ia masih disalahpahami. Masih kontroversial.
Barangkali,
karena kesalahpahaman itu, kemudian di Barat muncul para seniman yang
merepresentasikan figur Rasulullah secara negatif dalam karya seni mereka.
Dante Alighieri (w. 1321 M) dengan Divina Commedia-nya adalah contoh
klasik. Karikatur Rasulullah ala Charlie Hebdo merupakan contoh yang paling
gamblang.
Maka,
diterbitkan dan dibelanya karikatur tersebut sebaiknya tak sekadar dihadapi
dengan demonstrasi, protes, dan boikot, melainkan juga dengan menunjukkan
kepada masyarakat nonmuslim bahwa Nabi Muhammad adalah rasul yang sesungguhnya
mengajarkan cinta dan kemanusiaan. Rasul yang kepribadian, sikap, dan ajarannya
kerap disalahpahami.