Jumat, 08 Mei 2020

KETIKA IBNU ABBAS DIRENDAHKAN

Abdullah bin Abbas (619-687 M), yang biasanya disapa "Ibnu Abbas" saja, adalah ahli tafsir pertama dalam sejarah Islam. Dia dijuluki Tarjumanul Quran (juru bicara al-Quran). Ceramah-ceramah tafsirnya kelak dikumpulkan menjadi sebuah kitab yang dikenal sebagai Tafsir Ibnu Abbas.

Ibnu Abbas adalah sepupu Nabi Muhammad. Ibunya, Lubabah, ialah perempuan kedua yang memeluk agama Islam, setelah istri pertama Nabi, yaitu Khadijah. Sejak kecil, Ibnu Abbas sudah hidup bersama Nabi. Saat umat Islam generasi pertama berhijrah dari Mekah ke Madinah, Ibnu Abbas, yang saat itu masih balita, tampaknya juga ikut hijrah.

Di Madinah, Ibnu Abbas tinggal bersama keluarga Nabi. Bersama-sama dengan Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Umar, dan Anas bin Malik, Ibnu Abbas menjadi santri ndalem-nya Rasulullah. Karena itu, hubungan Ibnu Abbas dengan Rasulullah sangat dekat. Dia biasa mengambilkan air wudu dan menyiapkan sandal untuk Rasulullah.

Dia menyaksikan langsung kehidupan sehari-hari Rasulullah dari dekat. Sebagaimana Abdullah bin Umar, Ibnu Abbas sering menyertai Rasulullah dalam perjalanan ke banyak lokasi.

Yang lebih penting, Ibnu Abbas termasuk santri kesayangan Rasulullah. Rasulullah sengaja mengadernya untuk menjadi ulama setelah beliau meninggal. Rasulullah pernah berdoa agar Ibnu Abbas dikaruniai pemahaman mendalam tentang kandungan al-Quran. Tentu saja, doa tersebut terwujud. Ibnu Abbas telah menjadi ulama saat masih muda, sepertinya dalam usia belasan atau dua puluhan.

Pemahaman Ibnu Abbas terhadap al-Quran sangat mendalam. Bahkan, dalam konteks tafsir al-Quran, dia tahu apa yang tak diketahui para sahabat senior. Karena kedalaman, juga keluasan, ilmunya tersebut, setelah Rasulullah meninggal, Ibnu Abbas menjadi rujukan bagi para sahabat dan tabiin untuk bertanya berbagai hal tentang agama Islam, khususnya tentang al-Quran dan al-Hadits.

Para sahabat dan tabiin sering datang ke rumahnya untuk menimba ilmu. Akhirnya, rumah Ibnu Abbas menjadi semacam pesantren. Dia tak hanya memberikan pengajian tentang al-Quran, al-Hadits, dan fikih. Dia juga membuka kelas bahasa Arab, sastra Arab, dan sejarah Arab pra-Islam. Ketiga ilmu ini memang sangat dibutuhkan untuk menafsirkan al-Quran.

Saat menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khattab turut mempromosikan keulamaan Ibnu Abbas. Umar kerap mengajaknya dalam forum musyawarah kenegaraan yang dihadiri para sahabat senior.

Mulanya, mereka merendahkan Ibnu Abbas. Mereka berpikir bahwa Ibnu Abbas masih bau kencur, sama seperti anak mereka. Dia dipandang belum layak berdiskusi tentang masalah-masalah serius bersama mereka. Hal ini diceritakan sendiri oleh Ibnu Abbas.

Suatu waktu, Umar mengundang Ibnu Abbas untuk hadir dalam forum sahabat senior veteran Perang Badar. Salah seorang sahabat senior yang menghadiri forum itu mengajukan protes kepada Umar.

"Kenapa Anda mengundang orang yang sepantaran dengan anak kami?"

"Aku," jawab Umar, "mengundangnya karena posisinya yang sudah Anda ketahui." Maksudnya, posisi Ibnu Abbas dalam kancah keilmuan umat Islam saat itu.

Lalu, Umar melontarkan sebuah pertanyaan. Kepada para sahabat senior, dia bertanya tentang tafsir Surah al-Nashr. Surah ini turun berkaitan dengan peristiwa Fathul Makkah yang menandai kesuksesan dakwah Rasulullah dan kemenangan paripurna umat Islam atas kaum kafir Mekah.

Menurut para sahabat senior, surah tersebut mengandung perintah agar umat Islam memuji Tuhan dan meminta ampun kepada-Nya. Tuhan telah menolong umat Islam sehingga Mekah dapat ditaklukkan.

"Bagaimana pendapatmu?" tanya Umar kepada Ibnu Abbas.

Menurut Ibnu Abbas, Surah Al-Nashr adalah isyarat bahwa Rasulullah tidak lama lagi akan meninggal. Ternyata, penafsiran Umar pun demikian. "Aku," ujar Umar, "tidak mengetahui makna ayat(-ayat) itu selain apa yang Anda (Ibnu Abbas) katakan."

Apa pelajaran yang dapat kita petik dari kisah itu? Pertama, sikap sombong juga ada di kalangan sahabat. Meskipun Rasulullah menilai generasi sahabat sebagai generasi terbaik dalam sejarah Islam, para sahabat pada kenyataannya juga manusia.

Karena itu, tidak arif bila kita mengkultuskan generasi sahabat, seolah-olah mereka adalah manusia sempurna yang tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa. Kultus inilah yang menyebabkan sebagian umat Islam terobsesi meniru gaya hidup para sahabat Nabi, terutama secara lahiriah. Karena kultus ini, mindset umat Islam terperangkap pada masa lalu, tidak adaptif terhadap realitas kekinian, tidak antisipatif terhadap kemungkinan-kemungkinan di masa depan.

Kedua, fenomena direndahkannya ulama sudah terjadi sejak dulu. Sejak zaman sahabat Nabi. Maka, bila saat ini ada figur ulama yang direndahkan, dihina, atau pun dinista, kita tidak usah kaget. Tidak perlu terheran-heran, apalagi marah-marah. Santai saja.

Kalau ulama yang direndahkan tersebut memang memiliki ilmu agana yang benar-benar luas dan mendalam, suatu saat reputasi keilmuannya akan pulih dan mencuat kembali. Bahkan, mungkin pengagum dan pengikutnya akan bertambah banyak. Itulah yang dialami Ibnu Abbas.

Jadi, mari menjalani agama Islam secara santai. Mari belajar Islam dengan santai. Tidak usah sambil ngamuk-ngamuk. Tidak usah buru-buru. Ingin cepat menjadi ustadz. Mari belajar Islam pelan-pelan sembari membersihkan hati supaya kita tidak sesat dan menyesatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar