Serendah-rendahnya kualitas puasa yang dijalankan, selama bulan Ramadan setidaknya kita mempelajari dua nilai luhur, yaitu jujur dan sabar.
Saat berpuasa, tidak ada yang mengawasi puasa kita selain diri sendiri. Orang lain tak tahu pasti apakah kita benar-benar puasa ataukah kita hanya berakting puasa. Dengan demikian, puasa menguatkan kejujuran kita.
Puasa pun mengokohkan sifat sabar pada diri kita. Puasa hampir sinonim dengan sabar. Secara harfiah, arti "shaum" (padanan Arab untuk kata "puasa") adalah "menahan" (imsak). Maksudnya: menahan diri. Tindakan menahan diri hanya bisa dilakukan jika ada kesabaran. Tindakan menahan diri itu sendiri merupakan indikator kesabaran.
Kejujuran dan kesabaran yang diperoleh dari puasa Ramadan akan sangat bermanfaat. Kini kedua hal itu malah sangat relevan dan dibutuhkan.
Berkat kemajuan teknologi informasi, kita sekarang hidup pada era yang serba cepat. Teknologi informasi membangun kultur ingin cepat. Semboyannya, lebih cepat, lebih baik. Kecepatan dipandang sebagai kebaikan. Kecepatan menjadi idealitas yang harus dikejar.
Tapi, harus dipertanyakan, apa benar kecepatan selalu baik? Apa benar yang cepat itu dengan sendirinya pasti baik? Belum tentu. Dalam banyak konteks, kecepatan justru menimbulkan masalah. Kecepatan boleh jadi merupakan ketergesa-gesaan belaka.
Dalam sekian konteks, untuk menyelasaikan masalah-masalah pelik, kita justru memerlukan kelambanan, tepatnya kehati-hatian dan ketelitian. Kita butuh kesabaran untuk menyelasaikan sekian masalah rumit.
Kerumitan masalah sering dibayangkan bagai benang kusut. Benang kusut hanya dapat diurai dengan kesabaran. Mengurai benang kusut secara cepat justru akan semakin memperkusut benang tersebut. Ini relevansi pertama puasa Ramadan di zaman revolusi teknologi informasi kini.
Relevansi kedua, sebagaimana sudah direnungkan bersama, puasa Ramadan membentuk sikap jujur. Telah terbukti bahwa teknologi informasi berhasil menyebarkan pandemi kepalsuan.
Identitas yang kita pajang di media sosial tak sepenuhnya mencerminkan identitas kita di dunia nyata sehari-hari. Diri kita mengganda dan terbelah. Di dunia maya, kita tampil sebagai diri yang telah dirias dan dihias sedemikian rupa. Sementara itu, di dunia nyata, barangkali kita terpaksa melakoni peran yang bopeng dan cacat, yang tidak kita inginkan.
Kita kemudian merindukan kesejatian. Dalam kondisi demikian, kejujuran akan menyelematkan kita dari kehampaan rohani dan kemuakan terhadap diri sendiri. Kejujuran bagai oase di tengah padang pasir. Puasa Ramadan menuntun kita menuju oase kultural tersebut.
Maka, serendah-rendahnya kualitas puasa Ramadan kita, kita akan tetap memetik manfaat dari tirakat ini, asalkan kita melakoninya dengan ikhlas. Puasa Ramadan adalah ibadah yang manusiawi. Puasa Ramadan tidak berat.
Kita hanya disuruh puasa sejak subuh hingga magrib, sekitar 14 sampai 15 jam saja. Tiap hari selama bulan Ramadan. Tidak rasional mengeluhkan perintah yang mampu kita jalankan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar