Sabtu, 25 April 2020

MEMBACA TITAH, MENGENAL DIRI (3)

Walaupun ajaran moral pertama yang diterima Nabi adalah soal kerendahan hati, itu bukan berarti bahwa Nabi tidak rendah hati. Mengapa wahyu pertama mengajarkan kerendahan hati dulu sebelum moralitas-moralitas luhur lainnya? Kita tak tahu pasti. Wallahu a'lam.

Akal kita hanya sanggup bermungkin-mungkin. Mungkin karena rendah hati adalah inti moralitas dalam Islam. Mungkin karena kerendahan hati merupakan kunci membuka pintu hidayah. Mungkin karena kerendahan hati mengantar kita berjumpa Ilahi sedangkan ketinggian hati niscaya menyeret kita masuk ke dalam neraka. Mungkin....

Setelah peristiwa Isra' Mi'raj ketika Nabi menerima langsung perintah salat lima waktu, kerendahan hati dilambangkan dengan gerakan sujud. Sujud adalah tanda kemakrifatan. Sujud menunjukkan bahwa pelakunya telah mengenal siapa hakikat dirinya (ma'rifat al-nafs).

Dia hanyalah al-'alaq. Di hadapan Sang Pencipta, dia tak memiliki kebanggaan diri dan kehormatan diri sedikit pun. Dalam sujud, kepalanya yang mulia itu harus menyentuh tanah yang diinjak-injak kakinya sendiri, yang berada di bawah kakinya sendiri.

Saat sujud, eksistensinya seolah tiada. Bukan, bukan seolah tiada. Saat sujud, dia sadar betul bahwa eksistensinya memang sungguh-sungguh tidak ada, tertelan habis dalam eksistensi Sang Maha Agung.

(Bersambung....)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar