Susah memahami makna ayat ke-4 dari wahyu pertama bila pena dimengerti secara harfiah. Pena tersebut tentu metafora. Sekali lagi, bacalah fenomena hingga nenembus jantung hakikatnya.
Pada zaman Nabi, pena dan ilmu tak bisa dipisahkan. Pena adalah alat untuk merekam, menulis, mengembangkan, dan mewariskan ilmu. Para pengarang hikayat paham bahwa pena yg digunakannya untuk menulis telah menciptakan realitas dunia dalam ceritanya.
Pada diri manusia, juga ada sesuatu yang memiliki kemampuan menciptakan realitas, yaitu pikiran. Penjelasannya begini. Pikiran menciptakan perasaan. Pikiran yang positif membentuk suasana hati yang juga positif. Pikiran gelap memunculkan emosi negatif.
Proses selanjutnya, perasaan menciptakan perbuatan atau tindakan. Bila kita sedang bahagia, perbuatan yang kita lakukan cenderung baik. Sebaliknya, bila hati dikuasai amarah, perbuatan kita mirip hewan tak berakal.
Perbuatan yang dilakukan berulang-ulang kemudian menciptakan perangai, watak, atau karakter. Karakter menciptakan realitas kita di masa depan. Maka, bila rantai sebab akibat ini diperhatikan ujung dan pangkalnya, tampak bahwa pikiran kita menciptakan realitas kehidupan kita di masa mendatang.
Fungsi kreatif pikiran bagi al-insan mirip seperti fungsi kreatif pena bagi pengarang hikayat. Pena adalah alat untuk menulis, mengembangkan, dan mengajarkan ilmu. Bagi manusia secara individual, pikiran pun berfungsi untuk "menulis", mengembangkan, memahami, dan mengajarkan ilmu.
Barangkali karena alasan-alasan di atas, al-Ghazali menafsirkan al-qalam sebagai akal. Tapi, al-Ghazali juga sampai pada kesimpulan demikian setelah dia membandingkan isi dua hadis yang menerangkan makhluk yang pertama kali diciptakan.
Hadis pertama menyatakan bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan adalah akal. Hadis kedua mengatakan bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan adalah pena. Hadis mana yang benar? Menurut al-Ghazali, kedua hadis tersebut benar. Sebab, pena adalah metafora bagi akal. Pena ditakwilkan sebagai akal.
Jika takwil al-Ghazali itu benar, maka makna ayat ke-4 dari wahyu pertama menjadi "(Dia) yang mengajar dengan akal". Sebagai Sang Guru, Tuhan mengajari manusia dengan akal yang dimiliki manusia itu sendiri? Tapi, akal yang seperti apa? Apa dengan akal yang ngakali? Apa dengan akal yang diperbudak dan ditunggangi nafsu?
(Bersambung....)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar