Tiap tahun, umat Islam berpuasa Ramadan. Tapi, kenapa puasa kita tak berbekas? Seolah tanpa hasil, kecuali hanya lapar dan haus?
Kita barangkali sudah sering mendengar pertanyaan tersebut. Sebegitu seringnya sampai-sampai kita bosan mendengarnya.
Banyak ustaz yang sudah berusaha memberikan jawaban. Biasanya, mereka menggarisbawahi faktor keikhlasan dan kejujuran. Kalau dikerjakan tidak ikhlas, bagaimana puasa Anda bisa efektif? Tanpa kejujuran, bagaimana puasa Anda bisa bermanfaat?
Saya bukan ustaz. Saya tidak berniat menjawab pertanyaan di awal tulisan ini dalam rangka mencerahkan dan menyadarkan Anda. Saya saja masih gelap kok. Saya saja belum sadar kok.
Kalau pun saya akhirnya merenungi pertanyaan tersebut, saya meletakkan hasil renunhan sebagai nasihat untuk
diri sendiri. Saya akan bersyukur sekali kalau Anda tergerak mengambil manfaat dari hasil renungan saya. Bila tidak, ya tidak apa-apa.
Lalu, kenapa puasa kita tak berbekas? Dalam kitab Ihya Ulumiddin, Imam al-Ghazali memaparkan tiga level puasa.
Pertama, puasa awam. Ini level paling rendah. Di puasa level ini, kita hanya menahan nafsu makan, minum, dan syahwat dari subuh hingga magrib. Puasa level ini sama sekali tak membanggakan. Sebab, anak-anak saja sanggup melalukannya.
Puasa seperti ini membuahkan lapar dan haus. Kita merasa senang dengan kemeriahan Ramadan. Saat dini hari, ikut ramai-ramai membangunkan sahur. Saat sore hari, ikut ramai-ramai ngabuburit dan berbuka. Saat malam hari, ikut ramai-ramai salat tarawih dan bertadarus al-Quran. Selain lapar dan haus, yang kita peroleh dari puasa Ramadan hanya kesenangan melakukan ritual agama secara ramai-ramai itu. Perbaikan diri? Entah di mana.
Puasa level kedua, level yang lebih tinggi, dilakukan oleh sedikit umat. Imam al-Ghazali menyebut mereka sebagai golongan khos atau khowas. Saat menjalankan puasa, mereka tidak hanya menahan nafsu makan, minum, dan syahwat. Mereka juga mengendalikan seluruh anggota tubuh supaya tidak berbuat dosa.
Misalnya, tangan dijaga dari mencuri. Mulut dijaga dari nggosip. Mata dijaga dari objek-objek pandangan pornografis. Telinga dijaga dari mendengar obrolan tentang aib orang lain. Dan seterusnya.
Puasa level kedua ini lumayan berbekas. Bila dilakukan dalam jangka lama, puasa level kedua ini akan membentuk karakter baik.
Karakter bersifat tetap dan permanen. Setelah Ramadan berlalu, karakter baik yang terbentuk berkat puasa sebulan penuh, masih melekat. Karakter baik itu akan menjaga kita selama setahun ke depan, menjelang kedatangan Ramadan berikutnya.
Namun demikian, puasa level kedua sungguh berat dijalankan manakala kita tidak mengetahui kuncinya. Nah, kunci puasa level dua justru tersembunyi dalam puasa level di atasnya, yaitu puasa level tiga.
Hanya sedikit umat yang menjalani puasa level dua. Lebih sedikit lagi yang menjalani puasa level tiga. Mereka ini, yang jumlahnya amat sangat sedikit ini, disebut Imam al-Ghazali sebagai golongan khushusul khos atau khowashul khowas.
Yang mereka puasai tak sekadar nafsu perut dan nafsu kelamin, juga tak sekadar anggota tubuh. Yang mereka kontrol kuat-kuat adalah pikiran. Dengan berpuasa, mereka membangun Kesadaran dan menggunakan Kesadaran itu untuk mengawasi gerak-gerik pikiran sendiri.
Kalau gerak-gerik pikiran terkontrol, maka gerak-gerik anggota badan dengan sendirinya ikut terkontrol. Nafsu perut dan nafsu kelamin pun ikut terkontrol. Puasa level tinggi ini, puasa pikiran ini, tentu saja membekas.
Saat melakukan puasa pikiran ini, kita berlatih berpikir yang baik-baik. Pikiran buruk dan pikiran jahat dijauhi. Karena puncak kebaikan adalah Tuhan, maka saat menjalani puasa pikiran, kita berusaha untuk selalu ingat Tuhan. Tuhan selalu dihadirkan dalam hati. Hal ini dinamakan zikir dengan hati (al-dzikr bi al-qalb).
Puasa pikiran adalah puasa yang dijalankan leluhur Nusantara, nenek moyang kita. Buktinya apa? Leluhur Nusantara senantiasa mengenakan ikat kepala atau memakai tutup kepala.
Ikat kepala dan tutup kepala adalah lambang. Ikat kepala melambangkan pikiran yang diikat, dikekang, dikendalikan, dijaga, atau dikontrol. Penutup kepala melambangkan pikiran yang dilindungi dari bisikan-bisikan yang negatif, buruk, atau jahat. Sebab itulah, tata krama leluhur Nusantara tinggi sekali. Mereka hobi puasa. Hobi membersihkan pikiran. Mengontrol pikiran. Melindungi pikiran.
Bagaiamana dengan kita? Kita sudah dikaruniai bulan Ramadan tiap tahun. Tapi, berkah agung itu tidak kita manfaatkan secara maksimal. Kita tidak menjalankan puasa pikiran. Bahkan, kita tidak mengenal puasa semacam itu.
Yang kita ketahui dan jalani hanya puasa perut dan kelamin. Itu saja sudah membuat kita puas. Bahkan, sudah melambungkan kebanggaan dan kecongkakan kita setinggi langit.
Hanya karena telah menjalankan puasa perut dan kelamin, kita sudah merasa paling suci sendiri, paling saleh sendiri, paling agamis sendiri, dan paling beriman sendiri. Jika demikian, bukannya membuahkan manfaat, puasa Ramadan justru mendatangkan mudarat bagi kita.
Kita disuruh puasa supaya kenal diri sendiri sehingga tidak sombong. Tapi, kita malah bersikap sombong justru karena berpuasa. Disuruh mulia, kok malah suka rela menjadi hina dina. Dibukakan jalan untuk mendekat ke Tuhan, kok malah menjauh.
Melihat perilaku kita, apa malaikat tidak garuk-garuk kepala? Setan saja geleng-geleng kepala melihat kita....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar