Dalam hal ini, kata "akal"--sebagai takwil dari al-qalam--tampaknya perlu kita pahami secara lebih subtantif. Akal di sini barangkali lebih pas bila dipahami sebagai instrumen epistemologis, peralatan mental yang dipakai manusia untuk memperoleh ilmu.
Dan instrumen epistemologis ini tak hanya "akal" dalam pengertian modern yang beroperasi menurut hukum-hukum logika. Masih ada satu instrumen epistemologis lain yang memampukan manusia menerima pengetahuan suci secara iluminatif, tanpa melalui proses bernalar.
Instrumen epistemologis ini dalam filsafat Yunani Kuno dinamakan intelektus atau inteleksi. Melalui intelektus ini, para sufi menerima anugerah ilmu laduni. Melalui intelektus ini pula, para nabi dan rasul menerima wahyu.
Demikian makna yang ditemukan jika kita melihat qalam atau akal dari sisi manusia. Lalu, kalau kita memposisikan qalam pada ayat ke-4 wahyu pertama tersebut sebagai qalam-nya Tuhan, bukan qalam-nya manusia, maka insight apa yang kita dapatkan?
"Barangkali" mirip insight yang kita dapatkan pada ayat pertama. Semesta makhluk adalah aksara yang terhampar. Rangkaian aksara membentuk kata. Rangkaian kata membentuk kalimat. Rangkaian kalimat membentuk alinea. Rangkaian alinea membentuk wacana. Rangkaian wacana membentuk buku/kitab. Jadi, makhluk adalah hasil goresan pena Ilahi.
Itu artinya, makhluk juga menjadi media ajar yang digunakan Sang Guru untuk mendidik manusia. Karena itu, iqra! Bacalah makhluk untuk menemukan ilmu yang telah diturunkan Ilahi ke bumi.
Jika engkau ingin menggapai ilmu kerendahan hati dan kekuatan yang tak terkalahkan, bacalah air. Jika engkau ingin menguasai ilmu cinta, bacalah matahari yang memberi tanpa pandang bulu. Jika engkau ingin mendalami ilmu kesabaran, bacalah tanah yang diinjak dan dicangkul, yang menumbuhkan berbagai tanaman. Singkatnya, jika engkau ingin memiliki ilmu yang belum engkau ketahui, bacalah makhluk.
Dengan qalam, Tuhan mengajari manusia ilmu yang belum diketahuinya. 'Allama al-insan ma lam ya'lam. Manusia belajar dengan berbagai instrumen epistemologis. Dengan rasio. Juga dengan intelektus. Manusia belajar dengan membaca hamparan semesta makhluk, termasuk membaca dirinya sendiri sebagai makhluk. Manusia belajar dengan membaca al-Quran al-Takwiny. Titah sak wantah.
Apa kita sudah membaca titah sak wantah? Apa kita sudah membacanya hingga jantung hakikat? Apa kita sudah menjalankan perintah Tuhan dalam wahyu pertama? Atau, kita telah merasa cukup berilmu dengan hanya membaca al-Quran al-Tadwiny, sebuah kitab suci yang ditulis bukan dalam bahasa ibu kita dan yang diturunkan lebih dari 1400 tahun silam?
Mari membaca. Bukan hanya membaca al-Quran al-Tadwiny. Mari kita baca juga al-Quran al-Takwiny. Mari kita telusuri hakikat titah sak wantah. Mari ber-tafakkur. Mari ber-tadabbur. Supaya kita melihat wajah-Nya di mana pun. Supaya kita bisa mengahayati keihsanan. Supaya diri kita kian terhiasi sifat-sifat indah.
Wallahu a'lam.
Rahayu. Rahayu. Rahayu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar