Minggu, 26 April 2020

MEMBACA TITAH, MENGENAL DIRI (5)

Pertolongan dan kemurahan-Nya yang paling besar bagi manusia adalah ilmu. Berkat ilmu, manusia bisa mencari makan dengan mudah. Berkat ilmu, manusia bisa membuat pakaian yang melindungi dan menghiasi tubuhnya.

Berkat ilmu, manusia bisa membuat tempat tinggal beraneka macam, mulai yang paling kokoh sampai yang paling indah. Berkat ilmu, kedudukan manusia menjadi lebih tinggi dari tumbuhan, binatang, jin, bahkan malaikat. Berkat ilmu, manusia menjadi pemimpin seluruh dimensi kehidupan di bumi, bertahta sebagai wakil Sang Pencipta.

Maka, logis bila pada ayat ke-4 dan ke-5 dari wahyu yang pertama, Tuhan mengenalkan dirinya sebagai Sang Guru (al-Mu'allim) bagi manusia. Kita tentu masih ingat, kedua ayat itu berbunyi: "Alladzi 'allama bi al-qalam; 'allama al-insana ma lam ya'lam". Dia (Allah) mengajar dengan "pena". Mengajar al-insan apa yang belum diketahuinya.

Ada makna implisit di situ, yaitu manusia hakikatnya tidak tahu apa-apa, jika tak diberi tahu Sang Guru. Manusia pada dasarnya tak punya ilmu sehuruf pun. Dengan kata lain, kebodohan adalah hakikat manusia. Syukurnya, Sang Pemurah berkenan mengajari dia sebagai al-insan, yaitu sebagai makhluk yang menyadari realitas kelemahannya sehingga dia bersikap rendah hati.

Rendah hati adalah kunci untuk membuka gudang ilmu Ilahi yang tak terbatas. Jika tak rendah hati, pintu hati tertutup. Tak mau menerima ilmu dari Ilahi walaupun ilmu itu mendatanginya terus dari detik ke detik tanpa pernah berhenti. Sebagai Sang Pemurah, Dia tak pelit ilmu. Kita sendirilah yang menolak curahan ilmu dari-Nya yang melimpah ruah.

(Bersambung....)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar