Jumat, 24 April 2020

MEMBACA TITAH, MENGENAL DIRI (2)

Makhluk yang pertama kali perlu dibaca justru adalah diri kita sendiri, al-insan. Sebab, bagaimana mungkin kita mampu mengenali makhluk lain secara benar kalau kita beleum mengenal diri sendiri? Bagaiamana mungkin kita bisa melihat "wajah Tuhan" pada hamparan semesta makhluk bila kita belum melihat "wajah Tuhan" pada diri sendiri?

Isyarat maknawi ini terdapat dalam ayat kedua wahyu pertama: khalaqa al-insana min 'alaq. Biasanya diterjemahkan begini: Dialah (Allah) yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Para mufasir modern yang berambisi mempertemukan al-Quran dan sains menjelaskan bahwa segumpal darah itu adalah zigot dalam rahim perempuan yang sedang hamil muda.

Memang, zigot berbentuk seperti segumpal darah yang melekat. Yang dimaksud segumpal darah (al-'alaq) boleh jadi memang zigot itu. Tapi, jangan lupa bahwa ayat pertama dari wahyu pertama menyiratkan pesan bahwa saat membaca makhluk, kita tak boleh terperangkap pada fenomena empiris. Kita harus menembus jantung hakikatnya.

Maka pertanyaannya, apakah hakikat al-'alaq itu? Analisis semantik memberi kita percikan petunjuk. Akar kata al-'alaq adalah 'A-L-Q. Arti dasarnya adalah menempel, melekat, bergantung, dependen.

Dengan demikian, al-'alaq adalah sesuatu yang lemah, yang tak mampu berdiri sendiri, yang selalu membutuhkan pertolongan pihak lain. Zigot tidak bisa mencari makan sendiri. Hidup-matinya bergantung sepenuhnya pada asupan nutrisi yang secara alamiah disalurkan kepadanya.

Demikianlah hakikat manusia, al-insan, atau dumadi. Ia lemah. Ia tak berdaya. Ia tak mampu berdiri sendiri. Ia selalu membutuhkan pertolongan pihak lain. Manusia tidak bisa membuat makanannya sendiri. Dia butuh bantuan petani yang mengolah sawah. Dia butuh bantuan tanaman padi yang mengorbankan butir-butir padi yang merupakan bagian dari dirinya sendiri.

Manusia butuh pengorbanan ayam yang rela mati demi kehidupan manusia. Manusia butuh bantuan tanah yang menumbuhkan padi. Manusia butuh bantuan air yang "menghidupkan" tanah. Manusia butuh bantuan cacing dan dedaunan kering yang menyuburkan tanah.

Manusia butuh bantuan angin yang karena gerakannya terciptalah hujan. Manusia butuh bantuan matahari yang tanpanya tak satu pun tanaman tumbuh. Pada akhirnya, manusia butuh bantuan Tuhan yang tidak saja sangat pemurah (al-Karim), tetapi juga yang paling pemurah di antara semua pemurah (al-Akram).

Jika nyatanya manusia selemah itu, apakah kesombongannya rasional? Ajaran moral pertama yang diberikan Tuhan kepada Nabi Muhammad (melalui wahyu pertama) adalah kerendahan hati. Andhap asor. Aja dumeh. Jangan sok. Jangan merasa lebih. Aja adigang, adigung, adiguna. Jangan petentengan dan congkak. Durung luhur yen durung wani ashor. Kita belum mencapai ketinggian derajat spritual jika kita belum berani rendah.

(Bersambung....)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar