Minggu, 26 April 2020

MEMBACA TITAH, MENGENAL DIRI (4)

Ketika al-insan mulai mengenal hakikat dirinya, dia diberi kesadaran baru bahwa Tuhannya adalah yang paling pemurah di antara semua pemurah. Ayat ketiga dari wahyu pertama berbunyi: Iqra' wa rabbuka al-Akram.

Terjemah harfiahnya, "Bacalah! Dan Tuhanmu Yang Paling Pemurah". Sering juga diterjemahkan, "Bacalah! Dan Tuhanmu yang paling mulia". Kedua terjemahan itu benar. Tapi, yang lebih sesuai dengan struktur semantik wahyu pertama adalah terjemahan pertama.

Al-Akram, al-Karim, ikram, dan seluruh derivasi morfologisnya termasuk kata yang musytarak, yaitu kata yang mengandung tak hanya satu arti. Kata jenis ini bertebaran dalam al-Quran. Al-Akram dapat ber-arti "yang paling pemurah", dapat pula ber-arti "yang paling mulia".

Orang Arab, setidaknya pada zaman Nabi Muhammad, mengasosiasikan kemurahan, kedermawanan, atau kebersediaan + kesukaan menolong sesama, dengan kemuliaan. Para pemimpin kabilah diharapkan adalah orang yang paling pemurah (al-akram) dalam kabilah tersebut.

Tuhan, sebagai al-Akram, menduduki puncak kemurahan dan kedermawanan. Kalau Anda pernah berjumpa dengan orang yang paling ringan tangan menolong pihak lain, Tuhan setriliyun kali lebih ringan tangan.

"Ud'uni," ujar-Nya "astajib lakum." Panggillah Aku. Undanglah Aku. Mintalah kepada-Ku. Aku akan menjawab panggilanmu. Aku akan memenuhi undanganmu. Aku akan mengabulkan permintaanmu. Berdasarkan kearifan, kebijaksanaan, dan ilmu-Ku. Tidak berdasarkan nafsu, akal, atau ilmumu.

Manusia hakikatnya memang lemah. Tapi, tenang saja, sebab Sang al-Akram senantiasa siap, berkenan, dan mampu menolongnya. Bila engkau meminta tolong pada para pemimpin yang karim itu, boleh jadi suatu saat engkau akan kecewa. Entah karena dia tidak bersedia membantumu sebab salah paham terhadapmu. Entah karena dia memang tak mampu membantumu. Pemimpin juga manusia. Meskipun terlihat kuat, dia juga punya kelemahan dan sisi lemahnya sendiri.

Sementara itu, Sang al-Akram tak akan mengecewakanmu. Tak pernah. Dia memiliki segalanya. Dia mampu melalukan segalanya. Bukankah dia rabbuka alladzi khalaq? Bukankah Dia adalah Sang Pencipta?

(Bersambung....)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar