Wahyu yang pertama kali diterima Nabi Muhammad adalah perintah untuk membaca. Bacalah! Iqra'! Apa yang harus ia baca saat itu ? Tidak mungkin kitab al-Quran. Sebab, saat itu, al-Quran yang tercetak secara utuh dari Surat al-Fatihah sampai Surat al-Nas belum ada wujud fisiknya.
Wahyu pertama tidak menyebut objek bacaan secara eksplisit. Wahyu pertama hanya menggarisbawahi cara membacanya, yaitu bismi rabbika alladzi khalaq. Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.
Karena ayat itu tidak menyebut secara khusus objek apa yang harus dibaca, banyak ulama kemudian menafsirkan wahyu pertama sebagai perintah untuk membaca apapun. Objek bacaan tak dibatasi. Apapun boleh dibaca asalkan dengan menyebut nama Tuhan Sang Pencipta.
Daripada penafsiran di atas--yang agak jauh dari struktur semantik wahyu pertama secara keseluruhan (Q.S. al-'Alaq: 1-5), saya lebih merasa cocok dengan versi lain penafsiran wahyu pertama. Al-Quran adalah kalam, firman, ucapan, atau kata-kata Ilahi. Dan kata-kata Ilahi termanifestasi dalam dua bentuk.
Pertama, al-Quran al-Tadwiny, yaitu kalam Ilahi yang tercetak sebagai kitab suci al-Quran yang tersusun dari huruf-huruf Hijaiyah, yang menggunakan bahasa Arab, yang dimulai dengan al-Fatihah dan ditutup dengan al-Nas, yang kita baca secara tartil atau tilawah. Kedua, al-Quran al-Takwiny, yaitu kalam Ilahi berupa hamparan semesta makhluk-Nya. Seluruh ciptaan Ilahi adalah kalam-Nya.
.... Idza arada syai-an, an yaqula lahu "kun" fa yakun. Begitu disebutkan dalam Q.S. Yasin: 82. "....Bila Tuhan menghendaki sesuatu (termasuk menciptakan sesuatu), Dia berkata "kun!" ("jadilah!"), maka seketika jadilah sesuatu itu."
Mengacu pada ayat ini, para sufi lalu menyebut semesta makhluk sebagai "kunhu". Kun-nya Dia. Ucapan Ilahi. Sabda Ilahi. Kalam Ilahi. Dalam bahasa Jawa disebut "titah" atau "titah sak wantah". Manusia, yang termasuk titah Ilahi, secara khusus disebut "dumadi" (yang dijadikan). Yang diciptakan.
Titah sak wantah ini pada hakikatnya adalah al-Quran al-Takwiny. Surat al-Fatihah menamakannya "al-'alamin", yaitu apa pun selain Tuhan (ma siwallah). Seluruh objek pengetahuan Ilahi. Sarwa sekalian alam. Titah sak wantah.
Al-Quran al-Takwiny inikah objek yang Nabi Muhammad disuruh membacanya saat wahyu pertama turun? Boleh jadi memang demikian. Sebab, dalam ayat pertama dari wahyu pertama itu, Tuhan mengenalkan diri-Nya kepada Nabi sebagai Tuhanmu yang "menciptakan" (rabbuka alladzi khalaq).
Maka, maksud implisit ayat pertama dari wahyu pertama barangkali begini: Bacalah hamparan semesta ciptaan hingga ke jantung hakikatnya. Jangan hanya membaca kulitnya saja. Jangan hanya membaca fenomena lahiriahnya semata. Jangan terpaku dan terjebak pada penampilan lahiriah belaka.
Dengan metode pembacaan yang menembus jantung hakikat, saat engkau membaca ciptaan (makhluk), engkau akan melihat siapa penciptanya (al-Khalik). Bila engkau mempelajari makhluk, engkau akan mengenal Yang Menciptakan (alladzi khalaqa).
(Bersambung....)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar