Minggu, 13 Desember 2020

Muhammad, Rasul Cinta yang Disalahpahami

    SEBERAPA sayang Rasulullah kepada umatnya? Sangat sayang. Dalam kitab Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, Imam al-Suyuthi mengutip sebuah riwayat dari Ibnu Jarir al-Thabari. Riwayat tersebut berkisah tentang perdebatan antara Rasulullah dengan sekolompok kafir dari kalangan Qurays.

Juru bicara kaum kafir Qurays berkata, “Muhammad, Anda memberi tahu kami bahwa Musa memiliki tongkat yang digunakannya untuk memukul batu, bahwa Isa menghidupkan orang mati, dan bahwa kaum Tsamud diberi unta ajaib. Maka, tunjukkanlah mukjizatmu supaya kami mengakui kebenaranmu.”

“Mukjizat apa yang kalian suka?” tanya Rasulullah.

“Jadikanlah Bukit Shafa sebagai emas.”

“Kalau saya melakukannya, apakah kalian akan mengakui kebenaran saya?”

“Ya. Demi Allah.”

Rasulullah pun berdiri dan berdoa. Jibril lalu turun menemuinya.

“Kalau Anda mau,” ujar Jibril kepada Rasulullah, “Bukit Shafa bisa saja berubah menjadi emas. Tapi, ketika mukjizat itu terjadi dan mereka tetap tidak beriman, pastilah kami benar-benar akan mengazab mereka. Namun, kalau Anda mau, Anda tak usah merespons tantangan mereka. Nantikan saja pertaubatan orang-orang yang bertaubat.”

Opsi mana yang Rasulullah pilih? Al-Quran menuturkan bahwa tatkala dihadapkan pada situasi demikian, sebagian rasul sebelum Muhammad memilih opsi mempertontonkan mukjizat, dengan konsekuensi azab bagi umat mereka.

Tapi perlu dicatat, opsi tersebut mereka pilih bukan karena mereka sudah jenuh dengan perilaku umat mereka yang menentang dan menantang. Bukan pula karena merajuk dan marah. Sama sekali bukan. Para rasul bukan manusia yang lemah hati dan rapuh jiwa.

Standar kemanusiaan mereka sangat tinggi. Belas kasih (compassion) mereka terhadap umatnya tidak usah diragukan lagi. Justru belas kasih itulah yang barangkali mendorong mereka untuk memilih opsi yang pertama. Dengan munculnya mukjizat, diharapkan umat segera menyambut kebenaran tauhid sehingga mereka lekas beranjak dari alam derita ke alam bahagia.

Rupanya, belas kasih Rasulullah Muhammad kepada umatnya lebih besar lagi. Rasulullah sangat sayang kepada umatnya. Karena itu, ia tidak memilih opsi mukjizat dalam arti peristiwa ajaib yang menyalahi hukum alam. Meskipun Jibril sudah siap mengubah Bukit Shafa menjadi bongkahan emas raksasa, Rasulullah tak mengambil fasilitas dari Langit tersebut.

Ia tak ingin umatnya diazab walaupun mereka terus-menerus menentang, menantang, menyakiti, mengitimidasi, bahkan mempersekusinya. Dalam konteks akhlak (bukan dalam konteks keadilan), prinsip Rasulullah adalah kejahatan tidak dibalas dengan kejahatan. Mata tak dibalas dengan mata. Luka tak dibalas dengan luka. Nyawa tak dibalas dengan nyawa.

Kejahatan harus dibalas dengan kebaikan. Dengan kebaikan yang dilandasi kasih sayang, bukan kebaikan politis yang akal-akalan dan sarat kepentingan pribadi. Penganiayaan dibalas dengan maaf dan cinta.

Rasulullah pun sangat mempercayai umatnya, Ia menaruh harapan yang tinggi terhadap mereka. Saat perdebatan “Shafa Emas” itu berlangsung, memang masih banyak penduduk Mekah yang belum beriman. Tapi, suatu saat, sebagian di antara mereka mudah-mudahan bertaubat dan beriman.

Nyatanya, kepercayaan dan harapan tersebut terbukti. Ketika Mekah ditaklukkan oleh umat Islam yang sebelumnya mengungsi dan membangun kekuatan di Madinah, bukan hanya sebagian tetapi hampir seluruh penduduk Mekah bertaubat. Berbondong-bondong mereka mengikrarkan syahadat. Kesuksesan dakwah itu adalah buah dari benih cinta yang bertahun-tahun sebelumnya telah ditaburkan Rasulullah.

Maka, tidak salah dan tidak pula berlebihan jika kita menggelari Rasulullah Muhammad sebagai rasul cinta. Perilakunya adalah eskpresi cinta yang murni dan sejati. Cinta semacam ini sekarang amat dirindukan dan dibutuhkan peradaban yang sedang gelap-gelapnya. Rasulullah adalah teladan cinta. Bukan hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Ia adalah rahmat bagi peradaban, bahkan bagi semesta—dulu, sekarang, dan hingga masa akan datang.

Hanya saja, ajaran dan sosoknya kini disalahpahami banyak orang, terutama di Barat. Karena perilaku negatif segelintir muslim dan karena kesalahpahaman terhadap kandungan al-Quran, Rasulullah kemudian dicap sebagai guru kebencian yang mengajarkan doktrin pertumpahan darah. Betapa besar dan agungnya ketokohan Rasulullah dalam sejarah umat manusia sampai-sampai hingga kini pun, sekitar 1.400 tahun setelah ia wafat, ia masih disalahpahami. Masih kontroversial.

Barangkali, karena kesalahpahaman itu, kemudian di Barat muncul para seniman yang merepresentasikan figur Rasulullah secara negatif dalam karya seni mereka. Dante Alighieri (w. 1321 M) dengan Divina Commedia-nya adalah contoh klasik. Karikatur Rasulullah ala Charlie Hebdo merupakan contoh yang paling gamblang.

Maka, diterbitkan dan dibelanya karikatur tersebut sebaiknya tak sekadar dihadapi dengan demonstrasi, protes, dan boikot, melainkan juga dengan menunjukkan kepada masyarakat nonmuslim bahwa Nabi Muhammad adalah rasul yang sesungguhnya mengajarkan cinta dan kemanusiaan. Rasul yang kepribadian, sikap, dan ajarannya kerap disalahpahami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar