Kenapa kita begitu gigih memburu uang? Mungkin karena uang bisa dikonversi menjadi barang dan jasa apapun. Bahkan, ada yang berpikir bahwa uang bisa dikonversi menjadi apapun.
Menurutnya, uang bisa membeli kebahagiaan, kehidupan, cinta, kedamaian jiwa, juga kedekatan dengan Tuhan. Uang seperti tongkat sihir yang bisa mengubah apapun sekehendak hati kita. Uang bisa mengadakan yang tiada, meniadakan yang ada.
Jika kita berhenti sejenak dari kesibukan mencari uang, sekadar untuk merenungkan hakikat uang, boleh jadi iman kita terhadap uang akan berkurang, biarpun hanya sedikit. Apakah uang memang dapat membeli apapun?
Bayangkan bahwa kita tersesat di gurun pasir. Saat itu, kita membawa sekardus dolar. Persediaan logistik sudah habis. Setelah dua hari tidak menemukan makanan dan minuman, kita sangat lapar, sangat haus.
Sekonyong-konyong kita berpapasan dengan sekelompok kafilah yang perbekalannya tinggal sedikit. Stok makanan dan minuman yang mereka miliki hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Itu pun dicukup-cukupkan. Sebenarnya, mereka juga masih kekurangan.
Kita lalu bertanya kepada mereka, "Apa kalian punya sepotong roti dan segelas air? Jika ada, akan kubeli dengan dolarku yang sekardus ini."
Mereka tak menyambut tawaran kita. Kata mereka, "Walaupun emas segunung kau berikan kepada kami, kami tidak akan menjual makanan dan minuman kami kepadamu. Ini menyangkut nyawa kami. Uangmu tak ada harganya dibanding kehidupan kami."
Uang, seberapa pun banyaknya, tak bisa membeli kehidupan. Bahkan, juga tak bisa membeli kesehatan. Dan masih banyak hal lain yang tidak bisa ditukar dengan uang.
Cinta seseorang kepada kita, tak bisa kita beli dengan uang. Begitu pun kesetiaan sejati. Yang bisa dibeli dengan uang hanyalah loyalitas sesaat yang dilandasi prinsip dagang. Kalau kau beri aku uang, aku setia dan patuh kepadamu. Bila uangmu tak mengalir ke dompetku, untuk apa lagi aku setia dan patuh kepadamu?
Banyak wisatawan pergi berlibur ke Pulau Dewata demi mencari kedamaian jiwa. Tapi, mereka hanya memperoleh kedamaian jiwa sebentar. Setelah pulang ke daerah/negara asalnya, jiwa mereka kembali resah dan gelisah. Hati kembali kemrungsung.
Kedekatan dengan Tuhan tidak bisa dibeli dengan uang. Alangkah murahnya surga, yang merupakan manifestasi welas asih Ilahi, bila dapat kita beli dengan uang. Uang yang kita salurkan untuk sedekah. Uang yang kita sumbangkan untuk membangun masjid. Uang yang kita anggarkan untuk naik haji. Uang yang kita pakai untuk membeli baju koko, sarung, sorban, jilbab, atau gamis.
Dapatkah uang membeli welas asih Ilahi? Jika kita berpikir "dapat", itu artinya kita menyatakan bahwa kehendak Ilahi dapat dibeli dan bahwa uang lebih berkuasa daripada Tuhan. Bukankah ini pandangan jahanam yang mengandung unsur kekafiran?
Uang tak mahakuasa. Kesaktian uang ada batasnya. Dan karena itu, kita perlu menurunkan tingkat keimanan kita terhadap uang. Yang terbaik tentu kita bersikap kafir di hadapan uang. Kesaktian uang tidak abadi. Kesaktiannya temporal dan situasional, bergantung pada persepsi kolektif masyarakat, juga bergantung pada sesuatu yang hendak dibeli dengan uang.
Sikap kita terhadap uang seharusnya sewajarnya saja. Tidak perlu anti-uang seperti para sufi amatir. Tetapi juga jangan sampai menggilai uang sehingga melupakan hal-hal yang jauh lebih penting daripada uang, yaitu keluarga, kesehatan, kelestarian lingkungan, kemanusiaan, dan sebagainya. Pandemi Corona, krisis ekonomi, dan bertubi-tubi bencana alam, telah mengingatkan kita bahwa kesaktian uang ada batasnya.
Tidak ada larangan untuk mencari dan menambah pundi-pundi uang. Yang sebaiknya dihindari adalah nihilnya ketakwaan dan kewarasan dalam usaha mencari dan menggunakan uang. Apa kita ingin diberi peringatan yang lebih dahsyat daripada pandemi Corona dan rentetan bencana alam yang hingga kini sudah kita alami?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar