Selasa, 06 Agustus 2019

Pengertian dan Hikmah Wudu

Dalam bahasa Arab, "wudhu" adalah kata turunan yang berasal dari kata dasar "wadha-ah". Arti wadha-ah adalah bagus, bersih, dan murni/bebas dari kegelapan dosa.

Karena itu, berdasarkan arti tersebut, wudu selain mengacu pada kebersihan lahiriah, juga merujuk pada kebersihan batiniah. Membersihkan anggota "tubuh" saat berwudu hendaknya dibarengi dengan pembersihan hati dari dosa dan potensi dosa.

Makna batin wudu (asrarul wudu) dijelaskan secara rinci oleh Imam al-Ghazzali dalam kitab Bidayatul Hidayah. Anggota tubuh yang dibasuh/diusap dengan air saat berwudu kelak aktivitasnya dipertanggungjawabkan di akhirat. Secara batiniah, wudu adalah simbol pertaubatan.

Mulut harus disucikan dari dusta, kata-kata jorok, dan ucapan tajam yang melukai hati orang lain. Mulut jangan lagi menjadi pintu masuk makanan/minuman yang haram.

Hidung harus disucikan dari mengendus-endus aib orang lain. Kerakusan untuk merebut apa yang dimiliki orang lain, khususnya makanan dan sejenisnya, timbul antara lain melalui hidung. Hidung pun harus disucikan dari kerakusan ini.

Wajah harus disucikan dari menghadap arah yang tak boleh dihadap, yaitu hal-hal duniawi. Hendaknya orientasi hidup kita hanyalah Allah, dalam kondisi bagaimana pun, kapan pun, dan di mana pun. Wajah hati tak menghadap pada uang, jabatan, popularitas, pasangan hidup, dan hal-hal duniawi lain yang sifatnya fana dan palsu. Tentu ini susah dilakukan. Tapi setidaknya kita berusaha sejauh kemampuan.

Tangan disucikan dari kezaliman terhadap orang lain. Tangan tak boleh digunakan untuk mencuri, juga untuk korupsi. Tangan diciptakan tidak untuk memukul orang lain yang tak bersalah.

Lebih jauh, tangan melambangkan kekuasaan. Kekuasaan adalah amanah untuk menegakkan keadilan dan membangun kesejahteraan bersama. Jangan gunakan kekuasaan untuk memonopoli harta dan fasilitas negara. Jangan digunakan untuk menyingkirkan orang-orang baik yang tulus, kritis, dan mau bekerja, meskipun kehadirannya mengancam kekuasaan kita. Jangan pula digunakan untuk menindas yang lemah dan mengeksploitasi rakyat kecil.

Di dalam kepala, terdapat otak yang berpikir. Pikiran mempengaruhi perasaan. Selanjutnya, perasaan menentukan perbuatan. Dengan demikian, bertaubat atau memperbaiki diri dimulai dengan menata pikiran. Lebih spesifiknya, dengan mensucikan (isi) kepala dari pikiran yang buruk, jahat, dan gelap.

Untuk memperbaiki diri, yang harus dipikirkan dengan seksama adalah aib pribadi, bukan aib orang lain. Jika tak penting dan tak dibutuhkan, aib orang lain jangan dicari-cari, jangan juga disiarkan kepada orang banyak. Simpan saja rahasia itu di hati.

Dalam kitab Nashaihul 'Ibad (hlm. 22), terdapat kutipan nasihat  Ali bin Abi Thalib. Ia menjelaskan bahwa menyembunyikan rahasia (kitmanus sirr) adalah kebiasaan Allah (sunnatullah). Allah selalu menyembunyikan aib hamba-Nya sehingga aib itu tak terbuka telanjang di mata orang lain. Sunnatullah ini ada hikmahnya, yaitu hamba tersebut diberi kesempatan untuk bertaubat dengan dijaga nama baiknya.

Kita berlanjut ke hikmah wudu berikutnya. Telinga disucikan dari mendengar hal-hal yang tak berguna, dari mendengar provokasi yang memicu konflik bodoh, dan dari mendengar gosip seputar aib orang lain. Walaupun berat dijalankan, telinga sebaiknya hanya mendengar kata-kata yang baik, khususnya ilmu dan hikmah. Kalau pun telinga terpaksa mendengar kata-kata yang tak baik, input suara tersebut kita olah menjadi hal yang baik dan bermanfaat.

Sangat berat dijalankan memang. Saya pun belum bisa optimal melakukannya. Lebih banyak gagal daripada berhasil. Tapi sekali lagi, paling tidak kita berusaha untuk menjalankannya. Berbeda dari manusia yang selalu menuntut hasil kerja yang sempurna, Allah pengertian. Dia tak menuntut kesempurnaan hasil kerja.

Dia hanya mengharuskan kita bertanggung jawab atas niat dan proses kerja. Allah tak mengevaluasi hasil kerja. Yang dievaluasi Allah adalah orientasi dan kinerja.

Hikmah wudu selanjutnya, kaki harus disucikan dari melangkah ke tempat-tempat yang buruk. Hakikatnya, tak ada tempat yang buruk. Semua tempat baik belaka, hatta diskotik, panti pelacuran, dan markas perjudian sekali pun. Di areanya yang mana pun, bumi adalah suci. Bumi adalah sajadah tempat kita bersujud.

Karena itu, yang dimaksud mensucikan kaki adalah memurnikan dan meluruskan niat sebelum melangkah ke mana pun. Kaki tetap menjadi instrumen dan saksi dosa jika kita melangkah ke tempat mulia dengan niat yang hina, misalnya kita pergi ke masjid untuk berkhutbah supaya dipilih menjadi kepala desa atau anggota DPR. Sebaliknya, kaki menjadi instrumen dan saksi kebaikan jika kita melangkah ke tempat yang dipandang hina dengan niat yang mulia, misalnya pergi ke panti pelacuran untuk mengajak penghuninya bertaubat.

Itulah untaian mutiara hikmah yang terkandung dalam ritual wudu. Bila digali lebih dalam, tentu kita akan menemukan harta karun hikmah yang lebih banyak.

Sebagai pelengkap, sebelum tulisan ini ditutup, ada baiknya kita mendiskusikan pengertian wudu, sebagai pengantar untuk membahas seluk-beluk ritual wudu dari segi teknis. Wudu adalah "isti'malul ma-i fi a'dha-in makhshushatin muftatahan biniyyatin"; menggunakan air untuk membasuh/mengusap anggota tubuh tertentu yang dimulai dengan niat.

Tidak semua siraman pada anggota tubuh pasti merupakan wudu. Yang dikenai air saat wudu adalah anggota tubuh tertentu saja. Siraman pada anggota tubuh tertentu juga tidak serta-merta merupakan wudu. Wudu harus dimulai dengan niat berwudu. Tanpa niat berwudu, membasuh wajah, tangan, kepala, lalu kaki secara berurutan dan sinambung tidak dianggap wudu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar