Serendah-rendahnya kualitas puasa yang dijalankan, selama bulan Ramadan setidaknya kita mempelajari dua nilai luhur, yaitu jujur dan sabar.
Saat berpuasa, tidak ada yang mengawasi puasa kita selain diri sendiri. Orang lain tak tahu pasti apakah kita benar-benar puasa ataukah kita hanya berakting puasa. Dengan demikian, puasa menguatkan kejujuran kita.
Puasa pun mengokohkan sifat sabar pada diri kita. Puasa hampir sinonim dengan sabar. Secara harfiah, arti "shaum" (padanan Arab untuk kata "puasa") adalah "menahan" (imsak). Maksudnya: menahan diri. Tindakan menahan diri hanya bisa dilakukan jika ada kesabaran. Tindakan menahan diri itu sendiri merupakan indikator kesabaran.
Kejujuran dan kesabaran yang diperoleh dari puasa Ramadan akan sangat bermanfaat. Kini kedua hal itu malah sangat relevan dan dibutuhkan.
Berkat kemajuan teknologi informasi, kita sekarang hidup pada era yang serba cepat. Teknologi informasi membangun kultur ingin cepat. Semboyannya, lebih cepat, lebih baik. Kecepatan dipandang sebagai kebaikan. Kecepatan menjadi idealitas yang harus dikejar.
Tapi, harus dipertanyakan, apa benar kecepatan selalu baik? Apa benar yang cepat itu dengan sendirinya pasti baik? Belum tentu. Dalam banyak konteks, kecepatan justru menimbulkan masalah. Kecepatan boleh jadi merupakan ketergesa-gesaan belaka.
Dalam sekian konteks, untuk menyelasaikan masalah-masalah pelik, kita justru memerlukan kelambanan, tepatnya kehati-hatian dan ketelitian. Kita butuh kesabaran untuk menyelasaikan sekian masalah rumit.
Kerumitan masalah sering dibayangkan bagai benang kusut. Benang kusut hanya dapat diurai dengan kesabaran. Mengurai benang kusut secara cepat justru akan semakin memperkusut benang tersebut. Ini relevansi pertama puasa Ramadan di zaman revolusi teknologi informasi kini.
Relevansi kedua, sebagaimana sudah direnungkan bersama, puasa Ramadan membentuk sikap jujur. Telah terbukti bahwa teknologi informasi berhasil menyebarkan pandemi kepalsuan.
Identitas yang kita pajang di media sosial tak sepenuhnya mencerminkan identitas kita di dunia nyata sehari-hari. Diri kita mengganda dan terbelah. Di dunia maya, kita tampil sebagai diri yang telah dirias dan dihias sedemikian rupa. Sementara itu, di dunia nyata, barangkali kita terpaksa melakoni peran yang bopeng dan cacat, yang tidak kita inginkan.
Kita kemudian merindukan kesejatian. Dalam kondisi demikian, kejujuran akan menyelematkan kita dari kehampaan rohani dan kemuakan terhadap diri sendiri. Kejujuran bagai oase di tengah padang pasir. Puasa Ramadan menuntun kita menuju oase kultural tersebut.
Maka, serendah-rendahnya kualitas puasa Ramadan kita, kita akan tetap memetik manfaat dari tirakat ini, asalkan kita melakoninya dengan ikhlas. Puasa Ramadan adalah ibadah yang manusiawi. Puasa Ramadan tidak berat.
Kita hanya disuruh puasa sejak subuh hingga magrib, sekitar 14 sampai 15 jam saja. Tiap hari selama bulan Ramadan. Tidak rasional mengeluhkan perintah yang mampu kita jalankan.
Kamis, 30 April 2020
Senin, 27 April 2020
LEVEL PUASA
Tiap tahun, umat Islam berpuasa Ramadan. Tapi, kenapa puasa kita tak berbekas? Seolah tanpa hasil, kecuali hanya lapar dan haus?
Kita barangkali sudah sering mendengar pertanyaan tersebut. Sebegitu seringnya sampai-sampai kita bosan mendengarnya.
Banyak ustaz yang sudah berusaha memberikan jawaban. Biasanya, mereka menggarisbawahi faktor keikhlasan dan kejujuran. Kalau dikerjakan tidak ikhlas, bagaimana puasa Anda bisa efektif? Tanpa kejujuran, bagaimana puasa Anda bisa bermanfaat?
Saya bukan ustaz. Saya tidak berniat menjawab pertanyaan di awal tulisan ini dalam rangka mencerahkan dan menyadarkan Anda. Saya saja masih gelap kok. Saya saja belum sadar kok.
Kalau pun saya akhirnya merenungi pertanyaan tersebut, saya meletakkan hasil renunhan sebagai nasihat untuk
diri sendiri. Saya akan bersyukur sekali kalau Anda tergerak mengambil manfaat dari hasil renungan saya. Bila tidak, ya tidak apa-apa.
Lalu, kenapa puasa kita tak berbekas? Dalam kitab Ihya Ulumiddin, Imam al-Ghazali memaparkan tiga level puasa.
Pertama, puasa awam. Ini level paling rendah. Di puasa level ini, kita hanya menahan nafsu makan, minum, dan syahwat dari subuh hingga magrib. Puasa level ini sama sekali tak membanggakan. Sebab, anak-anak saja sanggup melalukannya.
Puasa seperti ini membuahkan lapar dan haus. Kita merasa senang dengan kemeriahan Ramadan. Saat dini hari, ikut ramai-ramai membangunkan sahur. Saat sore hari, ikut ramai-ramai ngabuburit dan berbuka. Saat malam hari, ikut ramai-ramai salat tarawih dan bertadarus al-Quran. Selain lapar dan haus, yang kita peroleh dari puasa Ramadan hanya kesenangan melakukan ritual agama secara ramai-ramai itu. Perbaikan diri? Entah di mana.
Puasa level kedua, level yang lebih tinggi, dilakukan oleh sedikit umat. Imam al-Ghazali menyebut mereka sebagai golongan khos atau khowas. Saat menjalankan puasa, mereka tidak hanya menahan nafsu makan, minum, dan syahwat. Mereka juga mengendalikan seluruh anggota tubuh supaya tidak berbuat dosa.
Misalnya, tangan dijaga dari mencuri. Mulut dijaga dari nggosip. Mata dijaga dari objek-objek pandangan pornografis. Telinga dijaga dari mendengar obrolan tentang aib orang lain. Dan seterusnya.
Puasa level kedua ini lumayan berbekas. Bila dilakukan dalam jangka lama, puasa level kedua ini akan membentuk karakter baik.
Karakter bersifat tetap dan permanen. Setelah Ramadan berlalu, karakter baik yang terbentuk berkat puasa sebulan penuh, masih melekat. Karakter baik itu akan menjaga kita selama setahun ke depan, menjelang kedatangan Ramadan berikutnya.
Namun demikian, puasa level kedua sungguh berat dijalankan manakala kita tidak mengetahui kuncinya. Nah, kunci puasa level dua justru tersembunyi dalam puasa level di atasnya, yaitu puasa level tiga.
Hanya sedikit umat yang menjalani puasa level dua. Lebih sedikit lagi yang menjalani puasa level tiga. Mereka ini, yang jumlahnya amat sangat sedikit ini, disebut Imam al-Ghazali sebagai golongan khushusul khos atau khowashul khowas.
Yang mereka puasai tak sekadar nafsu perut dan nafsu kelamin, juga tak sekadar anggota tubuh. Yang mereka kontrol kuat-kuat adalah pikiran. Dengan berpuasa, mereka membangun Kesadaran dan menggunakan Kesadaran itu untuk mengawasi gerak-gerik pikiran sendiri.
Kalau gerak-gerik pikiran terkontrol, maka gerak-gerik anggota badan dengan sendirinya ikut terkontrol. Nafsu perut dan nafsu kelamin pun ikut terkontrol. Puasa level tinggi ini, puasa pikiran ini, tentu saja membekas.
Saat melakukan puasa pikiran ini, kita berlatih berpikir yang baik-baik. Pikiran buruk dan pikiran jahat dijauhi. Karena puncak kebaikan adalah Tuhan, maka saat menjalani puasa pikiran, kita berusaha untuk selalu ingat Tuhan. Tuhan selalu dihadirkan dalam hati. Hal ini dinamakan zikir dengan hati (al-dzikr bi al-qalb).
Puasa pikiran adalah puasa yang dijalankan leluhur Nusantara, nenek moyang kita. Buktinya apa? Leluhur Nusantara senantiasa mengenakan ikat kepala atau memakai tutup kepala.
Ikat kepala dan tutup kepala adalah lambang. Ikat kepala melambangkan pikiran yang diikat, dikekang, dikendalikan, dijaga, atau dikontrol. Penutup kepala melambangkan pikiran yang dilindungi dari bisikan-bisikan yang negatif, buruk, atau jahat. Sebab itulah, tata krama leluhur Nusantara tinggi sekali. Mereka hobi puasa. Hobi membersihkan pikiran. Mengontrol pikiran. Melindungi pikiran.
Bagaiamana dengan kita? Kita sudah dikaruniai bulan Ramadan tiap tahun. Tapi, berkah agung itu tidak kita manfaatkan secara maksimal. Kita tidak menjalankan puasa pikiran. Bahkan, kita tidak mengenal puasa semacam itu.
Yang kita ketahui dan jalani hanya puasa perut dan kelamin. Itu saja sudah membuat kita puas. Bahkan, sudah melambungkan kebanggaan dan kecongkakan kita setinggi langit.
Hanya karena telah menjalankan puasa perut dan kelamin, kita sudah merasa paling suci sendiri, paling saleh sendiri, paling agamis sendiri, dan paling beriman sendiri. Jika demikian, bukannya membuahkan manfaat, puasa Ramadan justru mendatangkan mudarat bagi kita.
Kita disuruh puasa supaya kenal diri sendiri sehingga tidak sombong. Tapi, kita malah bersikap sombong justru karena berpuasa. Disuruh mulia, kok malah suka rela menjadi hina dina. Dibukakan jalan untuk mendekat ke Tuhan, kok malah menjauh.
Melihat perilaku kita, apa malaikat tidak garuk-garuk kepala? Setan saja geleng-geleng kepala melihat kita....
Kita barangkali sudah sering mendengar pertanyaan tersebut. Sebegitu seringnya sampai-sampai kita bosan mendengarnya.
Banyak ustaz yang sudah berusaha memberikan jawaban. Biasanya, mereka menggarisbawahi faktor keikhlasan dan kejujuran. Kalau dikerjakan tidak ikhlas, bagaimana puasa Anda bisa efektif? Tanpa kejujuran, bagaimana puasa Anda bisa bermanfaat?
Saya bukan ustaz. Saya tidak berniat menjawab pertanyaan di awal tulisan ini dalam rangka mencerahkan dan menyadarkan Anda. Saya saja masih gelap kok. Saya saja belum sadar kok.
Kalau pun saya akhirnya merenungi pertanyaan tersebut, saya meletakkan hasil renunhan sebagai nasihat untuk
diri sendiri. Saya akan bersyukur sekali kalau Anda tergerak mengambil manfaat dari hasil renungan saya. Bila tidak, ya tidak apa-apa.
Lalu, kenapa puasa kita tak berbekas? Dalam kitab Ihya Ulumiddin, Imam al-Ghazali memaparkan tiga level puasa.
Pertama, puasa awam. Ini level paling rendah. Di puasa level ini, kita hanya menahan nafsu makan, minum, dan syahwat dari subuh hingga magrib. Puasa level ini sama sekali tak membanggakan. Sebab, anak-anak saja sanggup melalukannya.
Puasa seperti ini membuahkan lapar dan haus. Kita merasa senang dengan kemeriahan Ramadan. Saat dini hari, ikut ramai-ramai membangunkan sahur. Saat sore hari, ikut ramai-ramai ngabuburit dan berbuka. Saat malam hari, ikut ramai-ramai salat tarawih dan bertadarus al-Quran. Selain lapar dan haus, yang kita peroleh dari puasa Ramadan hanya kesenangan melakukan ritual agama secara ramai-ramai itu. Perbaikan diri? Entah di mana.
Puasa level kedua, level yang lebih tinggi, dilakukan oleh sedikit umat. Imam al-Ghazali menyebut mereka sebagai golongan khos atau khowas. Saat menjalankan puasa, mereka tidak hanya menahan nafsu makan, minum, dan syahwat. Mereka juga mengendalikan seluruh anggota tubuh supaya tidak berbuat dosa.
Misalnya, tangan dijaga dari mencuri. Mulut dijaga dari nggosip. Mata dijaga dari objek-objek pandangan pornografis. Telinga dijaga dari mendengar obrolan tentang aib orang lain. Dan seterusnya.
Puasa level kedua ini lumayan berbekas. Bila dilakukan dalam jangka lama, puasa level kedua ini akan membentuk karakter baik.
Karakter bersifat tetap dan permanen. Setelah Ramadan berlalu, karakter baik yang terbentuk berkat puasa sebulan penuh, masih melekat. Karakter baik itu akan menjaga kita selama setahun ke depan, menjelang kedatangan Ramadan berikutnya.
Namun demikian, puasa level kedua sungguh berat dijalankan manakala kita tidak mengetahui kuncinya. Nah, kunci puasa level dua justru tersembunyi dalam puasa level di atasnya, yaitu puasa level tiga.
Hanya sedikit umat yang menjalani puasa level dua. Lebih sedikit lagi yang menjalani puasa level tiga. Mereka ini, yang jumlahnya amat sangat sedikit ini, disebut Imam al-Ghazali sebagai golongan khushusul khos atau khowashul khowas.
Yang mereka puasai tak sekadar nafsu perut dan nafsu kelamin, juga tak sekadar anggota tubuh. Yang mereka kontrol kuat-kuat adalah pikiran. Dengan berpuasa, mereka membangun Kesadaran dan menggunakan Kesadaran itu untuk mengawasi gerak-gerik pikiran sendiri.
Kalau gerak-gerik pikiran terkontrol, maka gerak-gerik anggota badan dengan sendirinya ikut terkontrol. Nafsu perut dan nafsu kelamin pun ikut terkontrol. Puasa level tinggi ini, puasa pikiran ini, tentu saja membekas.
Saat melakukan puasa pikiran ini, kita berlatih berpikir yang baik-baik. Pikiran buruk dan pikiran jahat dijauhi. Karena puncak kebaikan adalah Tuhan, maka saat menjalani puasa pikiran, kita berusaha untuk selalu ingat Tuhan. Tuhan selalu dihadirkan dalam hati. Hal ini dinamakan zikir dengan hati (al-dzikr bi al-qalb).
Puasa pikiran adalah puasa yang dijalankan leluhur Nusantara, nenek moyang kita. Buktinya apa? Leluhur Nusantara senantiasa mengenakan ikat kepala atau memakai tutup kepala.
Ikat kepala dan tutup kepala adalah lambang. Ikat kepala melambangkan pikiran yang diikat, dikekang, dikendalikan, dijaga, atau dikontrol. Penutup kepala melambangkan pikiran yang dilindungi dari bisikan-bisikan yang negatif, buruk, atau jahat. Sebab itulah, tata krama leluhur Nusantara tinggi sekali. Mereka hobi puasa. Hobi membersihkan pikiran. Mengontrol pikiran. Melindungi pikiran.
Bagaiamana dengan kita? Kita sudah dikaruniai bulan Ramadan tiap tahun. Tapi, berkah agung itu tidak kita manfaatkan secara maksimal. Kita tidak menjalankan puasa pikiran. Bahkan, kita tidak mengenal puasa semacam itu.
Yang kita ketahui dan jalani hanya puasa perut dan kelamin. Itu saja sudah membuat kita puas. Bahkan, sudah melambungkan kebanggaan dan kecongkakan kita setinggi langit.
Hanya karena telah menjalankan puasa perut dan kelamin, kita sudah merasa paling suci sendiri, paling saleh sendiri, paling agamis sendiri, dan paling beriman sendiri. Jika demikian, bukannya membuahkan manfaat, puasa Ramadan justru mendatangkan mudarat bagi kita.
Kita disuruh puasa supaya kenal diri sendiri sehingga tidak sombong. Tapi, kita malah bersikap sombong justru karena berpuasa. Disuruh mulia, kok malah suka rela menjadi hina dina. Dibukakan jalan untuk mendekat ke Tuhan, kok malah menjauh.
Melihat perilaku kita, apa malaikat tidak garuk-garuk kepala? Setan saja geleng-geleng kepala melihat kita....
Minggu, 26 April 2020
MEMBACA TITAH, MENGENAL DIRI (7)
Dalam hal ini, kata "akal"--sebagai takwil dari al-qalam--tampaknya perlu kita pahami secara lebih subtantif. Akal di sini barangkali lebih pas bila dipahami sebagai instrumen epistemologis, peralatan mental yang dipakai manusia untuk memperoleh ilmu.
Dan instrumen epistemologis ini tak hanya "akal" dalam pengertian modern yang beroperasi menurut hukum-hukum logika. Masih ada satu instrumen epistemologis lain yang memampukan manusia menerima pengetahuan suci secara iluminatif, tanpa melalui proses bernalar.
Instrumen epistemologis ini dalam filsafat Yunani Kuno dinamakan intelektus atau inteleksi. Melalui intelektus ini, para sufi menerima anugerah ilmu laduni. Melalui intelektus ini pula, para nabi dan rasul menerima wahyu.
Demikian makna yang ditemukan jika kita melihat qalam atau akal dari sisi manusia. Lalu, kalau kita memposisikan qalam pada ayat ke-4 wahyu pertama tersebut sebagai qalam-nya Tuhan, bukan qalam-nya manusia, maka insight apa yang kita dapatkan?
"Barangkali" mirip insight yang kita dapatkan pada ayat pertama. Semesta makhluk adalah aksara yang terhampar. Rangkaian aksara membentuk kata. Rangkaian kata membentuk kalimat. Rangkaian kalimat membentuk alinea. Rangkaian alinea membentuk wacana. Rangkaian wacana membentuk buku/kitab. Jadi, makhluk adalah hasil goresan pena Ilahi.
Itu artinya, makhluk juga menjadi media ajar yang digunakan Sang Guru untuk mendidik manusia. Karena itu, iqra! Bacalah makhluk untuk menemukan ilmu yang telah diturunkan Ilahi ke bumi.
Jika engkau ingin menggapai ilmu kerendahan hati dan kekuatan yang tak terkalahkan, bacalah air. Jika engkau ingin menguasai ilmu cinta, bacalah matahari yang memberi tanpa pandang bulu. Jika engkau ingin mendalami ilmu kesabaran, bacalah tanah yang diinjak dan dicangkul, yang menumbuhkan berbagai tanaman. Singkatnya, jika engkau ingin memiliki ilmu yang belum engkau ketahui, bacalah makhluk.
Dengan qalam, Tuhan mengajari manusia ilmu yang belum diketahuinya. 'Allama al-insan ma lam ya'lam. Manusia belajar dengan berbagai instrumen epistemologis. Dengan rasio. Juga dengan intelektus. Manusia belajar dengan membaca hamparan semesta makhluk, termasuk membaca dirinya sendiri sebagai makhluk. Manusia belajar dengan membaca al-Quran al-Takwiny. Titah sak wantah.
Apa kita sudah membaca titah sak wantah? Apa kita sudah membacanya hingga jantung hakikat? Apa kita sudah menjalankan perintah Tuhan dalam wahyu pertama? Atau, kita telah merasa cukup berilmu dengan hanya membaca al-Quran al-Tadwiny, sebuah kitab suci yang ditulis bukan dalam bahasa ibu kita dan yang diturunkan lebih dari 1400 tahun silam?
Mari membaca. Bukan hanya membaca al-Quran al-Tadwiny. Mari kita baca juga al-Quran al-Takwiny. Mari kita telusuri hakikat titah sak wantah. Mari ber-tafakkur. Mari ber-tadabbur. Supaya kita melihat wajah-Nya di mana pun. Supaya kita bisa mengahayati keihsanan. Supaya diri kita kian terhiasi sifat-sifat indah.
Wallahu a'lam.
Rahayu. Rahayu. Rahayu.
Dan instrumen epistemologis ini tak hanya "akal" dalam pengertian modern yang beroperasi menurut hukum-hukum logika. Masih ada satu instrumen epistemologis lain yang memampukan manusia menerima pengetahuan suci secara iluminatif, tanpa melalui proses bernalar.
Instrumen epistemologis ini dalam filsafat Yunani Kuno dinamakan intelektus atau inteleksi. Melalui intelektus ini, para sufi menerima anugerah ilmu laduni. Melalui intelektus ini pula, para nabi dan rasul menerima wahyu.
Demikian makna yang ditemukan jika kita melihat qalam atau akal dari sisi manusia. Lalu, kalau kita memposisikan qalam pada ayat ke-4 wahyu pertama tersebut sebagai qalam-nya Tuhan, bukan qalam-nya manusia, maka insight apa yang kita dapatkan?
"Barangkali" mirip insight yang kita dapatkan pada ayat pertama. Semesta makhluk adalah aksara yang terhampar. Rangkaian aksara membentuk kata. Rangkaian kata membentuk kalimat. Rangkaian kalimat membentuk alinea. Rangkaian alinea membentuk wacana. Rangkaian wacana membentuk buku/kitab. Jadi, makhluk adalah hasil goresan pena Ilahi.
Itu artinya, makhluk juga menjadi media ajar yang digunakan Sang Guru untuk mendidik manusia. Karena itu, iqra! Bacalah makhluk untuk menemukan ilmu yang telah diturunkan Ilahi ke bumi.
Jika engkau ingin menggapai ilmu kerendahan hati dan kekuatan yang tak terkalahkan, bacalah air. Jika engkau ingin menguasai ilmu cinta, bacalah matahari yang memberi tanpa pandang bulu. Jika engkau ingin mendalami ilmu kesabaran, bacalah tanah yang diinjak dan dicangkul, yang menumbuhkan berbagai tanaman. Singkatnya, jika engkau ingin memiliki ilmu yang belum engkau ketahui, bacalah makhluk.
Dengan qalam, Tuhan mengajari manusia ilmu yang belum diketahuinya. 'Allama al-insan ma lam ya'lam. Manusia belajar dengan berbagai instrumen epistemologis. Dengan rasio. Juga dengan intelektus. Manusia belajar dengan membaca hamparan semesta makhluk, termasuk membaca dirinya sendiri sebagai makhluk. Manusia belajar dengan membaca al-Quran al-Takwiny. Titah sak wantah.
Apa kita sudah membaca titah sak wantah? Apa kita sudah membacanya hingga jantung hakikat? Apa kita sudah menjalankan perintah Tuhan dalam wahyu pertama? Atau, kita telah merasa cukup berilmu dengan hanya membaca al-Quran al-Tadwiny, sebuah kitab suci yang ditulis bukan dalam bahasa ibu kita dan yang diturunkan lebih dari 1400 tahun silam?
Mari membaca. Bukan hanya membaca al-Quran al-Tadwiny. Mari kita baca juga al-Quran al-Takwiny. Mari kita telusuri hakikat titah sak wantah. Mari ber-tafakkur. Mari ber-tadabbur. Supaya kita melihat wajah-Nya di mana pun. Supaya kita bisa mengahayati keihsanan. Supaya diri kita kian terhiasi sifat-sifat indah.
Wallahu a'lam.
Rahayu. Rahayu. Rahayu.
MEMBACA TITAH, MENGENAL DIRI (6)
Dengan sarana apa Dia mencurahkan kelimpahan ilmu-Nya kepada manusia? Dengan instrumen apa Sang Guru mengajari al-insan? Dengan al-qalam. Dengan pena.
Susah memahami makna ayat ke-4 dari wahyu pertama bila pena dimengerti secara harfiah. Pena tersebut tentu metafora. Sekali lagi, bacalah fenomena hingga nenembus jantung hakikatnya.
Pada zaman Nabi, pena dan ilmu tak bisa dipisahkan. Pena adalah alat untuk merekam, menulis, mengembangkan, dan mewariskan ilmu. Para pengarang hikayat paham bahwa pena yg digunakannya untuk menulis telah menciptakan realitas dunia dalam ceritanya.
Pada diri manusia, juga ada sesuatu yang memiliki kemampuan menciptakan realitas, yaitu pikiran. Penjelasannya begini. Pikiran menciptakan perasaan. Pikiran yang positif membentuk suasana hati yang juga positif. Pikiran gelap memunculkan emosi negatif.
Proses selanjutnya, perasaan menciptakan perbuatan atau tindakan. Bila kita sedang bahagia, perbuatan yang kita lakukan cenderung baik. Sebaliknya, bila hati dikuasai amarah, perbuatan kita mirip hewan tak berakal.
Perbuatan yang dilakukan berulang-ulang kemudian menciptakan perangai, watak, atau karakter. Karakter menciptakan realitas kita di masa depan. Maka, bila rantai sebab akibat ini diperhatikan ujung dan pangkalnya, tampak bahwa pikiran kita menciptakan realitas kehidupan kita di masa mendatang.
Fungsi kreatif pikiran bagi al-insan mirip seperti fungsi kreatif pena bagi pengarang hikayat. Pena adalah alat untuk menulis, mengembangkan, dan mengajarkan ilmu. Bagi manusia secara individual, pikiran pun berfungsi untuk "menulis", mengembangkan, memahami, dan mengajarkan ilmu.
Barangkali karena alasan-alasan di atas, al-Ghazali menafsirkan al-qalam sebagai akal. Tapi, al-Ghazali juga sampai pada kesimpulan demikian setelah dia membandingkan isi dua hadis yang menerangkan makhluk yang pertama kali diciptakan.
Hadis pertama menyatakan bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan adalah akal. Hadis kedua mengatakan bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan adalah pena. Hadis mana yang benar? Menurut al-Ghazali, kedua hadis tersebut benar. Sebab, pena adalah metafora bagi akal. Pena ditakwilkan sebagai akal.
Jika takwil al-Ghazali itu benar, maka makna ayat ke-4 dari wahyu pertama menjadi "(Dia) yang mengajar dengan akal". Sebagai Sang Guru, Tuhan mengajari manusia dengan akal yang dimiliki manusia itu sendiri? Tapi, akal yang seperti apa? Apa dengan akal yang ngakali? Apa dengan akal yang diperbudak dan ditunggangi nafsu?
(Bersambung....)
Susah memahami makna ayat ke-4 dari wahyu pertama bila pena dimengerti secara harfiah. Pena tersebut tentu metafora. Sekali lagi, bacalah fenomena hingga nenembus jantung hakikatnya.
Pada zaman Nabi, pena dan ilmu tak bisa dipisahkan. Pena adalah alat untuk merekam, menulis, mengembangkan, dan mewariskan ilmu. Para pengarang hikayat paham bahwa pena yg digunakannya untuk menulis telah menciptakan realitas dunia dalam ceritanya.
Pada diri manusia, juga ada sesuatu yang memiliki kemampuan menciptakan realitas, yaitu pikiran. Penjelasannya begini. Pikiran menciptakan perasaan. Pikiran yang positif membentuk suasana hati yang juga positif. Pikiran gelap memunculkan emosi negatif.
Proses selanjutnya, perasaan menciptakan perbuatan atau tindakan. Bila kita sedang bahagia, perbuatan yang kita lakukan cenderung baik. Sebaliknya, bila hati dikuasai amarah, perbuatan kita mirip hewan tak berakal.
Perbuatan yang dilakukan berulang-ulang kemudian menciptakan perangai, watak, atau karakter. Karakter menciptakan realitas kita di masa depan. Maka, bila rantai sebab akibat ini diperhatikan ujung dan pangkalnya, tampak bahwa pikiran kita menciptakan realitas kehidupan kita di masa mendatang.
Fungsi kreatif pikiran bagi al-insan mirip seperti fungsi kreatif pena bagi pengarang hikayat. Pena adalah alat untuk menulis, mengembangkan, dan mengajarkan ilmu. Bagi manusia secara individual, pikiran pun berfungsi untuk "menulis", mengembangkan, memahami, dan mengajarkan ilmu.
Barangkali karena alasan-alasan di atas, al-Ghazali menafsirkan al-qalam sebagai akal. Tapi, al-Ghazali juga sampai pada kesimpulan demikian setelah dia membandingkan isi dua hadis yang menerangkan makhluk yang pertama kali diciptakan.
Hadis pertama menyatakan bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan adalah akal. Hadis kedua mengatakan bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan adalah pena. Hadis mana yang benar? Menurut al-Ghazali, kedua hadis tersebut benar. Sebab, pena adalah metafora bagi akal. Pena ditakwilkan sebagai akal.
Jika takwil al-Ghazali itu benar, maka makna ayat ke-4 dari wahyu pertama menjadi "(Dia) yang mengajar dengan akal". Sebagai Sang Guru, Tuhan mengajari manusia dengan akal yang dimiliki manusia itu sendiri? Tapi, akal yang seperti apa? Apa dengan akal yang ngakali? Apa dengan akal yang diperbudak dan ditunggangi nafsu?
(Bersambung....)
MEMBACA TITAH, MENGENAL DIRI (5)
Pertolongan dan kemurahan-Nya yang paling besar bagi manusia adalah ilmu. Berkat ilmu, manusia bisa mencari makan dengan mudah. Berkat ilmu, manusia bisa membuat pakaian yang melindungi dan menghiasi tubuhnya.
Berkat ilmu, manusia bisa membuat tempat tinggal beraneka macam, mulai yang paling kokoh sampai yang paling indah. Berkat ilmu, kedudukan manusia menjadi lebih tinggi dari tumbuhan, binatang, jin, bahkan malaikat. Berkat ilmu, manusia menjadi pemimpin seluruh dimensi kehidupan di bumi, bertahta sebagai wakil Sang Pencipta.
Maka, logis bila pada ayat ke-4 dan ke-5 dari wahyu yang pertama, Tuhan mengenalkan dirinya sebagai Sang Guru (al-Mu'allim) bagi manusia. Kita tentu masih ingat, kedua ayat itu berbunyi: "Alladzi 'allama bi al-qalam; 'allama al-insana ma lam ya'lam". Dia (Allah) mengajar dengan "pena". Mengajar al-insan apa yang belum diketahuinya.
Ada makna implisit di situ, yaitu manusia hakikatnya tidak tahu apa-apa, jika tak diberi tahu Sang Guru. Manusia pada dasarnya tak punya ilmu sehuruf pun. Dengan kata lain, kebodohan adalah hakikat manusia. Syukurnya, Sang Pemurah berkenan mengajari dia sebagai al-insan, yaitu sebagai makhluk yang menyadari realitas kelemahannya sehingga dia bersikap rendah hati.
Rendah hati adalah kunci untuk membuka gudang ilmu Ilahi yang tak terbatas. Jika tak rendah hati, pintu hati tertutup. Tak mau menerima ilmu dari Ilahi walaupun ilmu itu mendatanginya terus dari detik ke detik tanpa pernah berhenti. Sebagai Sang Pemurah, Dia tak pelit ilmu. Kita sendirilah yang menolak curahan ilmu dari-Nya yang melimpah ruah.
(Bersambung....)
Berkat ilmu, manusia bisa membuat tempat tinggal beraneka macam, mulai yang paling kokoh sampai yang paling indah. Berkat ilmu, kedudukan manusia menjadi lebih tinggi dari tumbuhan, binatang, jin, bahkan malaikat. Berkat ilmu, manusia menjadi pemimpin seluruh dimensi kehidupan di bumi, bertahta sebagai wakil Sang Pencipta.
Maka, logis bila pada ayat ke-4 dan ke-5 dari wahyu yang pertama, Tuhan mengenalkan dirinya sebagai Sang Guru (al-Mu'allim) bagi manusia. Kita tentu masih ingat, kedua ayat itu berbunyi: "Alladzi 'allama bi al-qalam; 'allama al-insana ma lam ya'lam". Dia (Allah) mengajar dengan "pena". Mengajar al-insan apa yang belum diketahuinya.
Ada makna implisit di situ, yaitu manusia hakikatnya tidak tahu apa-apa, jika tak diberi tahu Sang Guru. Manusia pada dasarnya tak punya ilmu sehuruf pun. Dengan kata lain, kebodohan adalah hakikat manusia. Syukurnya, Sang Pemurah berkenan mengajari dia sebagai al-insan, yaitu sebagai makhluk yang menyadari realitas kelemahannya sehingga dia bersikap rendah hati.
Rendah hati adalah kunci untuk membuka gudang ilmu Ilahi yang tak terbatas. Jika tak rendah hati, pintu hati tertutup. Tak mau menerima ilmu dari Ilahi walaupun ilmu itu mendatanginya terus dari detik ke detik tanpa pernah berhenti. Sebagai Sang Pemurah, Dia tak pelit ilmu. Kita sendirilah yang menolak curahan ilmu dari-Nya yang melimpah ruah.
(Bersambung....)
MEMBACA TITAH, MENGENAL DIRI (4)
Ketika al-insan mulai mengenal hakikat dirinya, dia diberi kesadaran baru bahwa Tuhannya adalah yang paling pemurah di antara semua pemurah. Ayat ketiga dari wahyu pertama berbunyi: Iqra' wa rabbuka al-Akram.
Terjemah harfiahnya, "Bacalah! Dan Tuhanmu Yang Paling Pemurah". Sering juga diterjemahkan, "Bacalah! Dan Tuhanmu yang paling mulia". Kedua terjemahan itu benar. Tapi, yang lebih sesuai dengan struktur semantik wahyu pertama adalah terjemahan pertama.
Al-Akram, al-Karim, ikram, dan seluruh derivasi morfologisnya termasuk kata yang musytarak, yaitu kata yang mengandung tak hanya satu arti. Kata jenis ini bertebaran dalam al-Quran. Al-Akram dapat ber-arti "yang paling pemurah", dapat pula ber-arti "yang paling mulia".
Orang Arab, setidaknya pada zaman Nabi Muhammad, mengasosiasikan kemurahan, kedermawanan, atau kebersediaan + kesukaan menolong sesama, dengan kemuliaan. Para pemimpin kabilah diharapkan adalah orang yang paling pemurah (al-akram) dalam kabilah tersebut.
Tuhan, sebagai al-Akram, menduduki puncak kemurahan dan kedermawanan. Kalau Anda pernah berjumpa dengan orang yang paling ringan tangan menolong pihak lain, Tuhan setriliyun kali lebih ringan tangan.
"Ud'uni," ujar-Nya "astajib lakum." Panggillah Aku. Undanglah Aku. Mintalah kepada-Ku. Aku akan menjawab panggilanmu. Aku akan memenuhi undanganmu. Aku akan mengabulkan permintaanmu. Berdasarkan kearifan, kebijaksanaan, dan ilmu-Ku. Tidak berdasarkan nafsu, akal, atau ilmumu.
Manusia hakikatnya memang lemah. Tapi, tenang saja, sebab Sang al-Akram senantiasa siap, berkenan, dan mampu menolongnya. Bila engkau meminta tolong pada para pemimpin yang karim itu, boleh jadi suatu saat engkau akan kecewa. Entah karena dia tidak bersedia membantumu sebab salah paham terhadapmu. Entah karena dia memang tak mampu membantumu. Pemimpin juga manusia. Meskipun terlihat kuat, dia juga punya kelemahan dan sisi lemahnya sendiri.
Sementara itu, Sang al-Akram tak akan mengecewakanmu. Tak pernah. Dia memiliki segalanya. Dia mampu melalukan segalanya. Bukankah dia rabbuka alladzi khalaq? Bukankah Dia adalah Sang Pencipta?
(Bersambung....)
Terjemah harfiahnya, "Bacalah! Dan Tuhanmu Yang Paling Pemurah". Sering juga diterjemahkan, "Bacalah! Dan Tuhanmu yang paling mulia". Kedua terjemahan itu benar. Tapi, yang lebih sesuai dengan struktur semantik wahyu pertama adalah terjemahan pertama.
Al-Akram, al-Karim, ikram, dan seluruh derivasi morfologisnya termasuk kata yang musytarak, yaitu kata yang mengandung tak hanya satu arti. Kata jenis ini bertebaran dalam al-Quran. Al-Akram dapat ber-arti "yang paling pemurah", dapat pula ber-arti "yang paling mulia".
Orang Arab, setidaknya pada zaman Nabi Muhammad, mengasosiasikan kemurahan, kedermawanan, atau kebersediaan + kesukaan menolong sesama, dengan kemuliaan. Para pemimpin kabilah diharapkan adalah orang yang paling pemurah (al-akram) dalam kabilah tersebut.
Tuhan, sebagai al-Akram, menduduki puncak kemurahan dan kedermawanan. Kalau Anda pernah berjumpa dengan orang yang paling ringan tangan menolong pihak lain, Tuhan setriliyun kali lebih ringan tangan.
"Ud'uni," ujar-Nya "astajib lakum." Panggillah Aku. Undanglah Aku. Mintalah kepada-Ku. Aku akan menjawab panggilanmu. Aku akan memenuhi undanganmu. Aku akan mengabulkan permintaanmu. Berdasarkan kearifan, kebijaksanaan, dan ilmu-Ku. Tidak berdasarkan nafsu, akal, atau ilmumu.
Manusia hakikatnya memang lemah. Tapi, tenang saja, sebab Sang al-Akram senantiasa siap, berkenan, dan mampu menolongnya. Bila engkau meminta tolong pada para pemimpin yang karim itu, boleh jadi suatu saat engkau akan kecewa. Entah karena dia tidak bersedia membantumu sebab salah paham terhadapmu. Entah karena dia memang tak mampu membantumu. Pemimpin juga manusia. Meskipun terlihat kuat, dia juga punya kelemahan dan sisi lemahnya sendiri.
Sementara itu, Sang al-Akram tak akan mengecewakanmu. Tak pernah. Dia memiliki segalanya. Dia mampu melalukan segalanya. Bukankah dia rabbuka alladzi khalaq? Bukankah Dia adalah Sang Pencipta?
(Bersambung....)
Sabtu, 25 April 2020
MEMBACA TITAH, MENGENAL DIRI (3)
Walaupun ajaran moral pertama yang diterima Nabi adalah soal kerendahan hati, itu bukan berarti bahwa Nabi tidak rendah hati. Mengapa wahyu pertama mengajarkan kerendahan hati dulu sebelum moralitas-moralitas luhur lainnya? Kita tak tahu pasti. Wallahu a'lam.
Akal kita hanya sanggup bermungkin-mungkin. Mungkin karena rendah hati adalah inti moralitas dalam Islam. Mungkin karena kerendahan hati merupakan kunci membuka pintu hidayah. Mungkin karena kerendahan hati mengantar kita berjumpa Ilahi sedangkan ketinggian hati niscaya menyeret kita masuk ke dalam neraka. Mungkin....
Setelah peristiwa Isra' Mi'raj ketika Nabi menerima langsung perintah salat lima waktu, kerendahan hati dilambangkan dengan gerakan sujud. Sujud adalah tanda kemakrifatan. Sujud menunjukkan bahwa pelakunya telah mengenal siapa hakikat dirinya (ma'rifat al-nafs).
Dia hanyalah al-'alaq. Di hadapan Sang Pencipta, dia tak memiliki kebanggaan diri dan kehormatan diri sedikit pun. Dalam sujud, kepalanya yang mulia itu harus menyentuh tanah yang diinjak-injak kakinya sendiri, yang berada di bawah kakinya sendiri.
Saat sujud, eksistensinya seolah tiada. Bukan, bukan seolah tiada. Saat sujud, dia sadar betul bahwa eksistensinya memang sungguh-sungguh tidak ada, tertelan habis dalam eksistensi Sang Maha Agung.
(Bersambung....)
Akal kita hanya sanggup bermungkin-mungkin. Mungkin karena rendah hati adalah inti moralitas dalam Islam. Mungkin karena kerendahan hati merupakan kunci membuka pintu hidayah. Mungkin karena kerendahan hati mengantar kita berjumpa Ilahi sedangkan ketinggian hati niscaya menyeret kita masuk ke dalam neraka. Mungkin....
Setelah peristiwa Isra' Mi'raj ketika Nabi menerima langsung perintah salat lima waktu, kerendahan hati dilambangkan dengan gerakan sujud. Sujud adalah tanda kemakrifatan. Sujud menunjukkan bahwa pelakunya telah mengenal siapa hakikat dirinya (ma'rifat al-nafs).
Dia hanyalah al-'alaq. Di hadapan Sang Pencipta, dia tak memiliki kebanggaan diri dan kehormatan diri sedikit pun. Dalam sujud, kepalanya yang mulia itu harus menyentuh tanah yang diinjak-injak kakinya sendiri, yang berada di bawah kakinya sendiri.
Saat sujud, eksistensinya seolah tiada. Bukan, bukan seolah tiada. Saat sujud, dia sadar betul bahwa eksistensinya memang sungguh-sungguh tidak ada, tertelan habis dalam eksistensi Sang Maha Agung.
(Bersambung....)
Langganan:
Postingan (Atom)