Mengapa dalam rata-rata kitab fikih bab thoharoh (bersuci) ditempatkan sebagai bab awal yang membuka kitab? Apakah karena para ulama fikih menomorsatukan kebersihan?
Memang, Islam sangat menghargai kebersihan. Dan kebersihan juga sangat penting bagi Islam. Rasulullah menyatakan bahwa kebersihan sebagian dari iman. Di lain kesempatan, ia bahkan menyatakan bahwa kebersihan merupakan separoh iman.
Namun, kedudukan kebersihan yang begitu penting dalam Islam tersebut agaknya tidaklah menjadi pertimbangan para ulama fikih untuk meletakkan bab thoharoh sebagai bab pembuka kitab fikih. Lalu, apa pertimbangannya? Apa alasannya?
Kebersihan tubuh, pakaian, dan tempat adalah syarat ibadah ritual, khususnya shalat. Jika syarat tersebut tak terpenuhi, shalat yang kita lakukan menjadi tidak sah. Karena itulah, setalah dibuka dengan bab thoharoh, biasanya uraian dalam kitab-kitab fikih dilanjutkan dengan bab shalat.
Jadi, bab thoharoh sebenarnya merupakan bagian permulaan dari bab shalat. Dalam Fathul Mu'in, kitab fikih yang ditulis ulama Syafi'iyyah bernama Zainuddin al-Malibari, kita tak menemukan bab khusus tentang thoharoh. Pemaparan tentang thoharoh dimasukkan ke dalam bab shalat, yaitu pada pembahasan tentang syarat-syarat sahnya shalat.
Wawasan apa yang dapat kita pelajari dari fenomena tersebut? Kebersihan dalam logika ulama berbeda dengan kebersihan dalam logika masyarakat awam pada umumnya. Bagi ulama, kebersihan senantiasa berkaitan dengan shalat. Pusat dan poros aktivitas keseharian ulama adalah shalat, sehingga kebersihan pun tercakup dalam domain shalat. Kebersihan dijaga demi melakasanakan shalat secara sah, maksimal, dan sempurna. Dengan demikian, bagi ulama, menjaga kebersihan pasti bernilai ibadah. Gaya hidup bersih adalah ibadah.
Sementara itu, dalam nalar masyarakat awam, kebersihan mencakup lingkup aktivitas yang lebih luas. Tak sebatas shalat. Tak sebatas ibadah ritual. Bagi kalangan awam, menjaga kebersihan tak dengan sendirinya menjadi ibadah. Menjaga kebersihan tak senantiasa merupakan bagian dari ibadah. Ada motivasi dan orientasi lain di balik upaya menjaga kebersihan, misalnya supaya sehat, supaya terlihat beradab, atau supaya tak terkesan udik dan jorok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar