Minggu, 28 Juli 2019

Makna Thoharoh

Dari segi bahasa, kata thoharoh diturunkan dari akar kata TH-H-R, artinya adalah 'bersih'. Harus dicatat bahwa dalam bahasa Arab setidaknya terdapat tiga kata yang sama-sama mengandung arti 'bersih', yaitu thohur, nadzhofah, dan zakah. Apa beda ketiganya?

Perbedaan ketiganya terletak pada konotasi makna dan konteks penggunaannya. Nadzhofah lebih cenderung mengacu pada kebersihan lahiriah yang empiris.

Sebaliknya, zakah biasanya digunakan untuk menjelaskan kebersihan batiniah atau kebersihan secara spiritual. Misalnya, arti tazkiyyatun nafs adalah 'membersihkan diri secara rohaniah'. Arti kata zakat, yang berasal dari kata zakah, adalah kebersihan harta secara batiniah dari unsur yang haram karena unsur itu sebenarnya bukanlah milik kita.

Konotasi makna kata thohur atau thoharoh lain lagi. Thoharoh mengacu pada kebersihan jasmaniah sekaligus rohaniah, lahiriah sekaligus batiniah, luar sekaligus dalam. Dalam al-Quran, arti kata thuhr adalah 'suci dari haidh' atau 'masa ketika perempuan sedang tidak mengalami menstruasi'. Jadi, di sini thuhr mengandung konotasi bersih/suci secara lahiriah.

Di sisi lain, ada istilah thohirudz dzimmah (orang yang jujur atau orang yang benar) dan thohirudz dzail (orang yang tiada berdosa). Di sini, variasi tashrif kata thoharoh digunakan untuk menjelaskan kebersihan secara batiniah.

Terlepas dari luasnya makna kata thoharoh tersebut, bab thoharoh dalam kitab fikih hanya membahas dan mempelajari kebersihan secara jasmaniah saja sejauh yang diperlukan untuk melaksanakan ibadah ritual, khususnya salat.  Karena itu, dalam ilmu fikih, thoharoh, yang biasanya diterjemahkan 'bersuci', didefinisikan sebagai "fi'lun ma tustabahu bihish sholah", yaitu "perbuatan yang membuat salat boleh dilakukan".

Perbuatan yang dimaksud adalah wudu, tayamum, mandi wajib, dan menghilangkan najis. Apabila kita berhadas dan kita belum melakukan wudu, maka kita tak boleh melakukan salat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar