Sabtu, 27 Juli 2019

HIKMAH FIKIH TOHAROH

Manusia adalah makhluk berdimensi ganda. Ia memiliki sisi jasmani sekaligus sisi rohani. Kedua dimensi ini saling mempengaruhi.

Islam mengajarkan bahwa sebelum kita melakukan ritual ibadah, sebelum kita bertemu dengan-Nya, kedua dimensi tersebut perlu dibersihkan. Yang bersih hanya bertemu dengan yang bersih. Tidak mungkin yang bersih bercampur-baur jadi satu dengan yang kotor.

Karena itu, untuk melakukan ibadah ritual yang di dalamnya kita bertemu dengan-Nya, perlulah terlebih dahulu kita membersihkan diri. Yang dibersihkan adalah sisi jasmani dan sisi rohani diri kita. Dengan melakukan hal ini, kita boleh berharap bahwa di samping sah, ibadah kita pun diterima oleh-Nya.

Cara membersihkan jasmani dipelajari dalam ilmu fikih, khususnya bab yang membahas tentang bersuci (ath-thoharoh). Cara membersihkan rohani dipelajari dalam ilmu tasawuf. Dan kedua ilmu ini sebenarnya merupakan penjabaran dan perincian dari ilmu tauhid (ushuluddin).

Hasil akhir mempelajari ketiga ilmu ini adalah akhlak atau adab. "Aku," ujar Nabi Muhammad saw. "hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak." Para ulama menyatakan bahwa al-din husnul khuluq; agama adalah akhlak yang indah.

Merupakan akhlak yang indah apabila Anda beristinja setelah buang air besar dan buang air kecil, bukan dengan memakai air yang kotor, melainkan dengar air yang bersih dan mensucikan. Merupakan akhlak yang indah apabila Anda mandi setelah bersenggama. Merupakan akhlak yang indah apabila Anda membersihkan tubuh dengan berwudu sebelum menghadap Allah SWT, rajanya para raja, sultannya para sultan, dan presidennya para presiden. Merupakan akhlak yang indah apabila Anda bersiwak atau menyikat gigi setelah mulut lama tertutup, setelah bangun tidur, dan sebelum salat.

Itulah indahnya nilai kebersihan yang diajarkan Islam. Bersih lahiriah. Bersih batiniah.

Tapi, sebagai muslim, sejauh mana kita mengamalkan dan menghayati nilai kebersihan dalam kehidupan sehari-hari?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar