Tidak jadi berbuat baik dengan alasan menghindari ketidak-ikhlasan, itu adalah tanda kebodohan. Menghentikan perbuatan baik karena merasa sudah tak ikhlas lagi dalam melakukannya, itu adalah tanda kesombongan.
Dikatakan sombong karena kita yakin bahwa perbuatan baik yang kita lakukan benar-benar tulus, bersih dari pamrih dan keriyaan apapun. Apakah kita telah benar-benar ikhlas? Belum tentu. Pamrih amat halus. Kerap tak kita sadari. Riya bagai semut kecil yang berjalan di batu licin pada malam yang gelap gulita. Semut kecil itu nyaris sama sekali tak terlihat, bahkan tak disadari keberadaannya. Tak dirasakan kehadirannya.
Mungkin, kita menyangka bahwa kebaikan yang telah kita lakukan didasari keikhlasan. Padahal, setelah diselidiki secara sangat teliti, terlihatlah bahwa kebaikan tersebut dibangun di atas pondasi pamrih yang sedemikian halus.
Kalau perbuatan baik yang telah kita lakukan belum tentu ikhlas, rasionalkah bila kita menghentikan perbuatan baik tersebut karena merasa sudah tidak ikhlas lagi dalam melakukannya?
Kalau kita tidak jadi berbuat baik karena khawatir tidak ikhlas, padahal tidak ada jaminan pasti bahwa kita akan ikhlas dalam melakukan perbuatan tersebut, apakah itu bukan kebodohan namanya?
Maka, entah akan ikhlas atau tidak ikhlas, perbuatan baik lakukan saja. Tak usah banyak pertimbangan. Entah masih dilakukan secara ikhlas atau sudah tidak ikhlas lagi, perbuatan baik yang sudah berjalan teruskan saja.
Kalau memang tidak ikhlas, ya sudah, kita berharap rahmat Allah saja. Mudah-mudahan Allah menoleransi unsur ketidak-ikhalasan dalam perbuatan baik kita.
Dengan cara pandang ini, kita tidak memberhalakan keikhlasan. Pusat perhatian kita dalam beramal tetap hanya Allah: Allah yang membimbing kita untuk berbuat baik, Allah yang memampukan kita berbuat baik, Allah yang berwenang untuk membalas atau tak membalas perbuatan baik kita, Allah yang memutuskan untuk menerima perbuatan baik kita ataukah tidak menerimanya, dan Allah pulalah yang memberi kita rahmat dan ampunan jika dalam perbuatan baik yang kita lakukan terkandung anasir ketidak-ikhlasan.
Yang kita andalkan adalah Allah, bukan keikhlasan (yang belum tentu ada) dalam beramal, bukan juga amal/perbuatan baik itu sendiri. Dengan demikian, kita selamat dari sombong, bangga diri berlebihan, ujub, pamer, kecewa, dan putus asa.
Jika hakikat amal adalah kuasa, kehendak, dan rahmat Allah sehingga tidak ada sedikit pun bagian diri kita dalam amal itu, apa yang bisa kita sombongkan, pamerkan, dan banggakan? Justru manakala kita semata-mata mengandalkan Allah dan memusatkan perhatian kepada-Nya, kita menjadi lebih dekat dengan keikhlasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar