Kamis, 26 Agustus 2021

Ukuran Kedekatan

Upaya kita untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, jelas perlu diukur. Jika tidak diukur, kita tidak tahu sudah sejauh mana pencapaian kita. Kita pun tidak tahu hal-hal apalagi yang sebaiknya kita lakukan supaya kita lebih dekat dengan Tuhan, atau supaya kita tidak semakin jauh dari-Nya.


Tapi, bagaimanakah kita dapat mengukur kedekatan kita dengan Tuhan? Ukuran seperti apa yang tepat kita gunakan?

Kekafiran Parameter Fisik

Segera muncul kilatan jawaban dalam benak kita: Tentu bukan ukuran yang bersifat fisik. Sebab, ungkapan "dekat dengan Tuhan" sama sekali tidak mengandung pengertian yang bersifat fisik dan keruangan. Bahasa gampangnya, jarak kita dengan Tuhan tidak bisa diukur dengan meteran. Sebab, Tuhan melampaui ruang dan waktu.

Mengatakan bahwa kedekatan kita dengan Tuhan bersifat fisik sama halnya dengan mereduksi kemahabesaran dan ketanzihan Tuhan. Dan itu adalah pemikiran yang mengandung unsur kekafiran.

Nyatanya, kini tak sedikit orang yang, barangkali tanpa sadar, berpemikiran "semacam" itu. Kira-kira, beginilah jalan pikiran mereka: Tuhan memiliki rumah-rumah. Salah satunya masjid.

Maka, kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya ditandai dengan kedekatan hamba tersebut dengan masjid. Kedekatan dengan Tuhan diukur berdasarkan frekuensi kedatangan ke masjid. Kian sering mengunjungi masjid, kian dekat seseorang dengan Tuhan. Kian jarang, kian jauh.

Tentu, "teori" dangkal demikian mudah dirobohkan. Korupsi uang wakaf dan zakat kadang dilakukan segelintir oknum takmir yang sangat dekat dengan masjid. Ia sangat sering mengunjungi masjid. Kita juga menemukan banyak muslim yang jauh dari masjid tetapi baik hati, dermawan, dan suka menolong sesama.

Jadi, secara ilmu tauhid dan secara sosio-kultural, kedekatan dengan Tuhan tidak bisa diukur dengan parameter yang bersifat fisik. Selanjutnya, kedekatan dengan Tuhan juga tak bisa diukur dengan parameter simbolis.

Ilusi Parameter Simbolis

Apa jaminan bahwa seseorang benar-benar dekat dengan Tuhan ketika dia mengenakan outfit hijrah? Jika dia berpenampilan shaleh/shalehah, tetapi gencar menyalah-nyalahkan, menghakimi, bahkan mengafir-ngafirkan saudaranya sesama pengikrar syahadat, apakah dia sungguh-sungguh dekat dengan Tuhan? Apakah mencari aib orang lain dan membongkarnya di depan publik merupakan tanda dekatnya seseorang dengan Tuhan? Apakah berburuk sangka terhadap orang lain dan merendahkan orang lain menunjukkan kedekatan dengan Tuhan?

Dimensi simbolis keagamaan yang lain, yaitu ritual, juga bukan tanda objektif kedekatan. Tentang shalat, kita barangkali hampir bosan mendengar pertanyaan mengapa shalat pada realitasnya tidak selalu bisa mencegah perbuatan nahi dan mungkar, padahal al-Quran mengatakan bahwa shalat mencegah kita melakukan dua kategori perbuatan buruk tersebut?

Jika ritual shalat berkorelasi positif dengan kedekatan kita kepada Tuhan, kita tak akan melontarkan pertanyaan demikian. Shalat rupanya adalah satu hal, sementara kedekatan dengan Tuhan adalah hal lain, yang keduanya tak selalu berkaitan, walaupun kita ingin melihat keduanya berkaitan langsung.

Ada muslim yang naik haji bermodalkan uang korupsi. Dan setelah bergelar haji, masih juga korupsi.

Kita bisa saja rajin melantunkan al-Quran sekadar untuk pamer. Pamer adalah gejela niat yang tidak ikhlas. Masak seseorang yang dekat dengan Tuhan beribadah secara tidak ikhlas?

Subjektivitas Parameter Moral

Jika tak bisa diukur dengan parameter yang fisis, simbolis, dan ritualistis, apakah kedekatan kita dengan Tuhan bisa diukur berdasarkan parameter moral? Tampaknya, juga tidak bisa. Kebaikan tidak objektif. Mau tak mau, kita harus mengakui bahwa kebaikan bersifat subjektif, relatif, bahkan rentan ditunggangi oleh kepentingan egoistis yang amat halus (an-nafs al-khofiyyah).

Misalnya, bersedekah. Secara teoretis, tidak ada yang menyangkal bahwa sedekah adalah perbuatan baik. Tapi, dalam praktiknya, sedekah belum tentu menjadi kebaikan.

Jika aku bersedekah untuk menjaga martabat, marwah, atau nama baikku, jelas sedekahku tak tergolong kebaikan, karena niatku tidak tulus untuk membantu sesama. Jika aku bersedekah karena musuhku yang kudengki juga bersedekah, maka sedekahku bukanlah kebaikan, walaupun masyarakat memuji sedekahku sebagai perbuatan baik. Jika aku bersedekah 10 juta kepada pengemis, aku barangkali akan dicerca netizen bahwa aku hanya mengajari pengemis tersebut melanggengkan kemalasan dan jiwa benalunya.

Jejak Nafsu dalam Parameter Niat

Ilustrasi itu menerangkan bahwa kebaikan ternyata tidak bisa dipakai sebagai ukuran objektif untuk mengevaluasi kedekatan kita dengan Tuhan. Bagaimana dengan niat atau keikhlasan? Sebagai awam yang belum mencapai maqom waliyullah, penilaian kita terhadap niat baik diri sendiri masih dipengaruhi nafsu.

Maksudnya, begini: Karena keterbatasan pengetahuan, pengamatan yang tak teliti, kekurangjujuran terhadap diri sendiri, dan ketidak-kritisan terhadap diri sendiri, maka tak jarang kita menyimpulkan bahwa kita sudah ikhlas. Padahal, ketika kini kita merenungkan kembali perbuatan baik yang dulu kita klaim ikhlas, kita menemukan bercak-bercak noda ketidak-ikhlasan dalam perbuatan yang ternyata belum tentu baik itu.

Mayoritas manusia cenderung memandang baik apa yang dilakukannya, cenderung memandang buruk apa yang dilakukan orang lain. Umumnya manusia ingin mengambil dan menggenggam kebaikan dan kebenaran semata-mata untuk dirinya sendiri. Kebanyakan Manusia ingin mengidentikkan dirinya dengan kebenaran dan kebaikan. Itulah yang membuat dia menderita secara batin.

Keadilan Semesta

Bila kebaikan dan niat ternyata tak bisa dipakai sebagai parameter objektif untuk mengukur kedekatan kita dengan Tuhan, lantas kita harus menggunakan parameter apa? Ada satu parameter kedekatan yang agaknya objektif, yaitu kecepatan dalam pembalasan karma. Dikatakan objektif karena pembalasan karma merupakan sunnatullah atau the law of universe, begitu pula tempo cepat lambatnya pembalasan karma.

The law of universe adalah hukum alam. Kehendak, nafsu, ego, dan pikiran manusia tidak kuasa mengintervensi, memanipulasi, atau mengotak-atik the law of universe. Keadilan semesta bersifat objektif.

Dalam kehidupan ini, ada satu realitas halus yang jarang kita sadari walaupun kita alami, yaitu semakin dekat dengan Tuhan, semakin cepat pula balasan karma buruk yang pernah kita lakukan. Hukum suci kehidupan tersebut merupakan cara semesta menjaga dan melindungi hamba-hamba yang dekat dengan Ilahi. Itulah metode pendidikan alamiah yang diterapkan semesta untuk meningkatkan ketakwaan kita.

Benar ajaran para leluhur Minangkabau: alam terkembang adalah guru. Kehidupan adalah guru yang mengajari kita tanpa melalui ceramah, khutbah, pengajian, dan kata-kata apa pun. Ia mendidik kita dengan "bahasa keheningan". Meskipun tanpa kata-kata, didikan sang guru kehidupan amat keras, sehingga kita sampai merintih-rintih dan meratap-ratap dibuatnya.

Di antara mata pelajaran yang diajarkan sang guru kehidupan adalah ketakwaan. Seolah-olah ia bersabda, berhati-hatilah dalam bertindak. Sebab, hukum karma berlaku. Keadilan semesta bukan khayalan belaka. Barang siapa berbuat baik, kendati sekecil dzarroh, ia pasti dan pasti akan "melihat" buah perbuatan baik itu. Barang siapa berbuat jahat, kendati sekecil dzarroh, ia pasti dan pasti akan "melihat" akibat perbuatan jahat tersebut.

Maka, jika engkau ingin selamat meniti jembatan kehidupan, berhati-hatilah dalam melangkah. Ingatlah selalu dengan keadilan semesta. Cepat atau lambat, keadilan semesta akan menunjukkan kidigdayaan dan kinerjanya. Sing becik ketitik, sing olo ketoro. Yang baik, akan ketahuan. Yang buruk, akan kelihatan.

Keadilan semesta akan bekerja dalam tempo cepat terhadap orang-orang yang dekat, mendekat, atau sedang didekatkan kepada Tuhan. Sebaliknya, keadilan semesta bekerja secara lamban terhadap orang-orang yang jauh dengan Tuhan, justru untuk memberi mereka kesempatan bertaubat. Bagi mereka, kinerja keadilan semesta di-pending, ditunda, atau ditangguhkan. Itulah yang dalam kamus tasawuf disebut istidroj (pelenaan).

Jadi, jangan heran bila ada pejabat korup yang kian hari kian kian tinggi jabatannya. Jangan bingung tatkala ada pengusaha yang serakah dan curang tetapi kekayaannya semakin bertambah saja.

Jangan pula merasa aman bila setelah berlaku jahat kepada sesama, kita tak segera menerima hukum karma atas kejahatan itu. Alih-alih menunjukkan cinta Tuhan kepada kita, jangan-jangan fenomena tersebut justru mengindikasikan bahwa kita sedang jauh dari-Nya. Sebab, demikianlah hukum semesta berbunyi: semakin kita menjauh dari Tuhan, kita semakin di-istidroj.

Catatannya, yang menjauh secara psikologis dari Tuhan adalah kita. Tuhan sendiri pada hakikatnya tidak pernah menjauh dari kita. Ia selalu dekat, lebih dekat daripada urat leher kita sendiri. Ia selalu dekat, bukan hanya dengan kiai, pendeta, brahmana, atau biksu saja, melainkan juga dengan pelacur, preman, atau begal sekali pun.

Tapi, yang kita bicarakan sekarang bukan kedekatan kita dengan Tuhan dari segi hakikat. Yang tengah kita bicarakan adalah jauh dekatnya kita dengan Tuhan secara psikologis "dari sudut pandang kita", bukan dari sudut pandang Tuhan Yang Mahadekat dan Mahapengasih.

Dan untuk mengulangi apa yang sebelumnya telah disampaikan, semakin kita dekat dengan Tuhan, hukum karma berlaku secara semakin cepat terhadap kita. Semakin jauh, semakin lambat. Agaknya, inilah parameter yang lebih objektif untuk mengukur kedekatan kita dengan Tuhan.

Bekerjanya the law of universe ini mendorong kita untuk berintrospeksi dan memperbaiki diri. Tak bisa kita gunakan untuk menyimpulkan dan menghakimi dekat jauhnya orang lain kepada Tuhan. Sebab, hukum karma orang lain dialami dan dirasakan oleh orang bersangkutan. Kita tidak ikut mengalaminya.

Demikian pula, kita sendirilah yang mengalami dan merasakan hukum karma kita. Jika kita tak mau memperbaiki diri, kita sendirilah yang akan terus menerima hukuman/siksaan hingga kita kapok dan mau berubah. Kita tak menanggung akibat dari dosa orang lain. Orang lain pun tak menanggung konsekuensi dari dosa kita.

Wallahu a'lam....

Rabu, 18 Agustus 2021

Batas Kesaktian Uang

Kenapa kita begitu gigih memburu uang? Mungkin karena uang bisa dikonversi menjadi barang dan jasa apapun. Bahkan, ada yang berpikir bahwa uang bisa dikonversi menjadi apapun. 

Menurutnya, uang bisa membeli kebahagiaan, kehidupan, cinta, kedamaian jiwa, juga kedekatan dengan Tuhan. Uang seperti tongkat sihir yang bisa mengubah apapun sekehendak hati kita. Uang bisa mengadakan yang tiada, meniadakan yang ada.

Jika kita berhenti sejenak dari kesibukan mencari uang, sekadar untuk merenungkan hakikat uang, boleh jadi iman kita terhadap uang akan berkurang, biarpun hanya sedikit. Apakah uang memang dapat membeli apapun?

Bayangkan bahwa kita tersesat di gurun pasir. Saat itu, kita membawa sekardus dolar. Persediaan logistik sudah habis. Setelah dua hari tidak menemukan makanan dan minuman, kita sangat lapar, sangat haus.

Sekonyong-konyong kita berpapasan dengan sekelompok kafilah yang perbekalannya tinggal sedikit. Stok makanan dan minuman yang mereka miliki hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Itu pun dicukup-cukupkan. Sebenarnya, mereka juga masih kekurangan.

Kita lalu bertanya kepada mereka, "Apa kalian punya sepotong roti dan segelas air? Jika ada, akan kubeli dengan dolarku yang sekardus ini."

Mereka tak menyambut tawaran kita. Kata mereka, "Walaupun emas segunung kau berikan kepada kami, kami tidak akan menjual makanan dan minuman kami kepadamu. Ini menyangkut nyawa kami. Uangmu tak ada harganya dibanding kehidupan kami."

Uang, seberapa pun banyaknya, tak bisa membeli kehidupan. Bahkan, juga tak bisa membeli kesehatan. Dan masih banyak hal lain yang tidak bisa ditukar dengan uang.

Cinta seseorang kepada kita, tak bisa kita beli dengan uang. Begitu pun kesetiaan sejati. Yang bisa dibeli dengan uang hanyalah loyalitas sesaat yang dilandasi prinsip dagang. Kalau kau beri aku uang, aku setia dan patuh kepadamu. Bila uangmu tak mengalir ke dompetku, untuk apa lagi aku setia dan patuh kepadamu?

Banyak wisatawan pergi berlibur ke Pulau Dewata demi mencari kedamaian jiwa. Tapi, mereka hanya memperoleh kedamaian jiwa sebentar. Setelah pulang ke daerah/negara asalnya, jiwa mereka kembali resah dan gelisah. Hati kembali kemrungsung.

Kedekatan dengan Tuhan tidak bisa dibeli dengan uang. Alangkah murahnya surga, yang merupakan manifestasi welas asih Ilahi, bila dapat kita beli dengan uang. Uang yang kita salurkan untuk sedekah. Uang yang kita sumbangkan untuk membangun masjid. Uang yang kita anggarkan untuk naik haji. Uang yang kita pakai untuk membeli baju koko, sarung, sorban, jilbab, atau gamis.

Dapatkah uang membeli welas asih Ilahi? Jika kita berpikir "dapat", itu artinya kita menyatakan bahwa kehendak Ilahi dapat dibeli dan bahwa uang lebih berkuasa daripada Tuhan. Bukankah ini pandangan jahanam yang mengandung unsur kekafiran?

Uang tak mahakuasa. Kesaktian uang ada batasnya. Dan karena itu, kita perlu menurunkan tingkat keimanan kita terhadap uang. Yang terbaik tentu kita bersikap kafir di hadapan uang. Kesaktian uang tidak abadi. Kesaktiannya temporal dan situasional, bergantung pada persepsi kolektif masyarakat, juga bergantung pada sesuatu yang hendak dibeli dengan uang.

Sikap kita terhadap uang seharusnya sewajarnya saja. Tidak perlu anti-uang seperti para sufi amatir. Tetapi juga jangan sampai menggilai uang sehingga melupakan hal-hal yang jauh lebih penting daripada uang, yaitu keluarga, kesehatan, kelestarian lingkungan, kemanusiaan, dan sebagainya. Pandemi Corona, krisis ekonomi, dan bertubi-tubi bencana alam, telah mengingatkan kita bahwa kesaktian uang ada batasnya.

Tidak ada larangan untuk mencari dan menambah pundi-pundi uang. Yang sebaiknya dihindari adalah nihilnya ketakwaan dan kewarasan dalam usaha mencari dan menggunakan uang. Apa kita ingin diberi peringatan yang lebih dahsyat daripada pandemi Corona dan rentetan bencana alam yang hingga kini sudah kita alami?