Kadang-kadang kita menilai para sahabat Nabi Muhammad secara berlebihan. Seolah-olah mereka seperti malaikat. Tidak pernah salah. Padahal, mereka adalah manusia biasa seperti kita. Mereka juga pernah salah seperti kita.
Bedanya, kita jarang belajar dari kesalahan. Sementara itu, kebanyakan sahabat Nabi mau belajar dari kesalahan yang telah mereka lakukan. Di situlah letak kehebatan sesungguhnya dari para sahabat. Itulah alasan mengapa kita memuliakan mereka.
Kita mengambil pelajaran dari kesalahan mereka. Kita pun belajar banyak dari upaya mereka untuk berdamai dengan dampak psikis akibat kesalahan tersebut.
Salah seorang sahabat Nabi yang mewariskan pelajaran berharga semacam itu kepada kita adalah Abdullah bin Amr bin al-Ash. Ia diperkirakan lahir pada tahun 616 M. Masuk Islam pada tahun 7 Hijriah. Abdullah lebih dahulu masuk Islam daripada ayahnya. Ketika Nabi meninggal, Abdullah baru berusia 17.
Abdullah terkenal rajin beribadah. Terlalu bersemangat dalam beribadah. Sedemikian rajinnya sampai-sampai demi ibadah, dia mengabaikan kewajibannya terhadap keluarga.
Setelah Abdullah menikah, ayahnya (Amr bin al-Ash) berkunjung ke rumahnya. Tapi, sang anak tidak menyambut. Amr hanya disambut istri Abdullah. Abdullah rupanya sedang sibuk beribadah. Selalu beribadah tiap malam dan siang. Selalu berpuasa tiap hari.
Amr kemudian bertanya kepada menantunya, "Bagaimana kondisi kalian?"
"Aku," jawab istri Abdullah, "sebenarnya tidak mencela akhlak dan kesalehannya (Abdullah). Tapi, sepertinya dia tidak butuh perempuan."
Mendengar jawaban tersebut, Amr tampaknya kemudian menasihati Abdullah. Tapi, sepertinya sang anak tidak mendengarkan nasihat tersebut. Karena itu, Amr melapor kepada Rasulullah. Amr barangkali berpikir bahwa hati Abdullah hanya akan lunak jika disentuh kata-kata Rasulullah.
Di depan Rasulullah, Amr menuturkan perilaku Abdullah yang beribadah secara berlebihan. Suatu hari, ketika berjumpa dengan Abdullah, Rasulullah pun menegur sahabatnya tersebut untuk tidak berlebihan dalam beribadah.
Tapi, Abdullah justru berkata, "Ya Rasulullah, izinkanlah aku menggunakan tenagaku sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah."
"Jika engkau melakukan itu semua," ucap Rasulullah, "tubuhmu akan lemah. Matamu akan sakit karena tak tidur. Sesungguhnya tubuhmu punya hak. Keluargamu punya hak. Dan para tamu juga punya hak atas dirimu."
Selanjutnya terjadi tawar-menawar jumlah ibadah. Rasulullah menganjurkan Abdullah untuk berpuasa tiga hari saja tiap bulan. Abdullah menawar. Ia merasa kuat mengerjakan puasa lebih banyak. Waktu itu, Abdullah masih muda. Umurnya masih belasan.
Karena Abdullah menawar, Rasulullah menaikkan level anjuran. Puasa dua hari saja tiap minggu, yaitu puasa Senin Kamis. Abdullah menawar lagi. Anjuran terakhir: puasa Nabi Daud. Sehari puasa. Sehari berbuka.
Kecepatan khatam membaca al-Quran juga menjadi arena negosiasi. Abdullah dianjurkan untuk mengkhatamkan al-Quran per 20 hari sekali. Abdullah menawar. Anjuran dinaikkan: 10 hari sekali. Abdullah masih ngotot menawar. Akhirnya, Rasulullah menyarankan Abdullah untuk mengkhatamkan al-Quran tiap 3 hari sekali.
Rasulullah melanjutkan nasihatnya, "Lakukanlah apa yang kuperintahkan. Dan taatilah ayahmu."
Pesan Rasulullah itu amat membekas di hati Abdullah. Ia berusaha keras untuk menaati perintah ayahnya. Sebelum Perang Shiffin pecah (657 M/31 H), Amr bin al-Ash mengajaknya bergabung ke dalam kubu Muawiyah. Perang Shiffin adalah perang sipil dalam tubuh umat Islam yang menghadap-hadapkan dua kubu politik, yaitu kubu Muawiyah bin Abi Sufyan dan kubu Ali bin Abi Thalib.
Abdullah tampaknya ingin netral dalam perang saudara itu. Dia tidak ingin memihak salah satu kubu, apalagi berperang melawan keluarga Rasulullah. Tapi, Amr bin al-Ash menyuruhnya untuk membantu Muawiyah. Karena ingat dengan pesan Rasulullah untuk menaati ayahnya, dengan berat hati Abdullah ikut bertempur di pihak Muawiyah.
Abdullah masih hidup setelah pertempuran usai. Tapi, dia merasa bersalah kepada Ali dan keluarganya. Kesertaan Abdullah dalam Perang Shiffin menjadi beban jiwa sepanjang hayat.
Suatu hari, saat Abdullah sedang berbincang-bincang bersama teman-temannya di depan Masjid Nabawi, putra Ali, yaitu Husein, lewat. Husein beruluk salam kepada mereka. Abdullah menjawab salam tersebut dengan kikuk. Tapi, dia sebenarnya bahagia sekali. Ada tanda bahwa Husein telah memaafkannya. Husein tidak dendam kepadanya.
Karena itu, setelah Husein berlalu dan tak kelihatan lagi, Abdullah berkata seperti ini kepada teman-temannya: "Sukakah kalian aku tunjukkan penghuni bumi yang paling dicintai penduduk langit? Dialah yang baru saja lewat di depan kita. Husein bin Ali. Sejak Perang Shiffin, ia tak pernah bicara denganku. Sungguh, ridanya terhadapku lebih kusukai dari barang berharga apapun juga."
Setelah peristiwa tersebut, Abdullah mengajak Abu Sa'id al-Khudri untuk berkunjung ke rumah Husein. Abu Sa'id adalah sahabat sepuh yang sangat dihormati dan disegani para sahabat lain. Husein tentu juga menghormati Abu Sa'id. Abdullah mengajak Abu Sa'id sebagai penyambung lidahnya supaya upaya Abdullah untuk meminta maaf kepada Husein berjalan lancar.
Abu Sa'id bersedia membantu Abdullah. Mereka pun berkunjung ke rumah Husein. Setelah dibuka dengan basa-basi, obrolan kemudian menjurus pada Perang Shiffin dan permintaan maaf Abdullah.
Kepada Abdullah, Husein bertanya, "Apa alasan Anda ikut berperang di pihak Muawiyah?"
"Suatu hari," jawab Abdullah, "aku diadukan ayahku, Amr bin al-'Ash, kepada Rasulullah. Ayahku berkata, 'Abdullah ini puasa tiap hari dan beribadah tiap malam'. Rasulullah berpesan kepadaku, "Abdullah, salat dan tidurlah. Berpuasa dan berbukalah. Dan taatilah ayahmu.' Sewaktu Perang Shiffin, ayahku mendesakku dengan keras agar ikut bersamanya [untuk membela Muawiyah]. Aku pun pergi. Tapi, demi Allah, [dalam perang itu] aku tak pernah menghunus pedang, melempar tombak, atau pun melepas anak panah."
Husein adalah sosok yang halim dan pemaaf. Dia dan kakaknya, Hasan, dikenal memiliki keihsanan yang tinggi. Saya yakin, bahkan sebelum Abdullah meminta maaf, Husein sudah memaafkannya.
Tapi, bagi Abdullah, selama dia belum meminta maaf langsung kepada Husein, hatinya masih belum tenang. Jiwanya masih memikul beban berat, yaitu rasa bersalah yang mendalam dan tak berkesudahan.
Sesudah meminta maaf kepada Husein dan melihat langsung kelapang-dadaan cucu Rasulullah tersebut, hati Abdullah menjadi tenang. Langkah jiwanya terasa ringan. Ia akhirnya meninggal pada usia 72 tahun saat beribadah di langgarnya.
Kisah ini merupakan gambaran singkat sisi manusiawi salah seorang sahabat. Para sahabat Nabi bukan malaikat. Mereka manusia biasa seperti kita. Sebagai manusia, mereka pernah melakukan kesalahan. Tapi, sebagaimana yang dialami Abdullah bin Amr bin al-Ash, mereka belajar dari kesalahan tersebut sehingga bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik, meskipun proses itu sangat berat dilakoni.
Di situlah letak kemuliaan para sahabat Nabi. Mereka adalah guru mulia. Riwayat hidup mereka menjadi sumber pelajaran berharga bagi kita. Mereka mendidik kita melalui perbuatan, tak hanya melalui ucapan. Semoga Tuhan senantiasa meridai dan merahmati mereka.
Catatan:
1) Halim atau hilm adalah sifat terpuji menurut Islam. Arti halim adalah "tidak membalas dendam meskipun mampu melakukannya". Untuk melakukan kehaliman, diperlukan kesabaran, pemakluman, dan permaafan.
2) Ihsan adalah idealitas moral yang menjadi tujuan agama Islam. Yang dimaksud ihsan adalah apabila Anda diberi, Anda membalas pemberian tersebut dalam jumlah yang berkali lipat lebih banyak. Anda berbagi walaupun kepada orang kikir. Bila Anda dilukai, Anda memaafkan dan tidak menuntut keadilan. Anda berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat terhadap Anda. Sebagai nilai moral, kedudukan ihsan lebih tinggi daripada adil. Ada dua metode untuk mencapai dan menghayati ihsan, yaitu musyahadah (Anda beribadah kepada Allah seolah-olah Anda melihat-Nya) dan muraqabah (Anda beribadah kepada Allah sambil menyadari bahwa Allah melihat Anda).
Rabu, 13 Mei 2020
Jumat, 08 Mei 2020
KETIKA IBNU ABBAS DIRENDAHKAN
Abdullah bin Abbas (619-687 M), yang biasanya disapa "Ibnu Abbas" saja, adalah ahli tafsir pertama dalam sejarah Islam. Dia dijuluki Tarjumanul Quran (juru bicara al-Quran). Ceramah-ceramah tafsirnya kelak dikumpulkan menjadi sebuah kitab yang dikenal sebagai Tafsir Ibnu Abbas.
Ibnu Abbas adalah sepupu Nabi Muhammad. Ibunya, Lubabah, ialah perempuan kedua yang memeluk agama Islam, setelah istri pertama Nabi, yaitu Khadijah. Sejak kecil, Ibnu Abbas sudah hidup bersama Nabi. Saat umat Islam generasi pertama berhijrah dari Mekah ke Madinah, Ibnu Abbas, yang saat itu masih balita, tampaknya juga ikut hijrah.
Di Madinah, Ibnu Abbas tinggal bersama keluarga Nabi. Bersama-sama dengan Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Umar, dan Anas bin Malik, Ibnu Abbas menjadi santri ndalem-nya Rasulullah. Karena itu, hubungan Ibnu Abbas dengan Rasulullah sangat dekat. Dia biasa mengambilkan air wudu dan menyiapkan sandal untuk Rasulullah.
Dia menyaksikan langsung kehidupan sehari-hari Rasulullah dari dekat. Sebagaimana Abdullah bin Umar, Ibnu Abbas sering menyertai Rasulullah dalam perjalanan ke banyak lokasi.
Yang lebih penting, Ibnu Abbas termasuk santri kesayangan Rasulullah. Rasulullah sengaja mengadernya untuk menjadi ulama setelah beliau meninggal. Rasulullah pernah berdoa agar Ibnu Abbas dikaruniai pemahaman mendalam tentang kandungan al-Quran. Tentu saja, doa tersebut terwujud. Ibnu Abbas telah menjadi ulama saat masih muda, sepertinya dalam usia belasan atau dua puluhan.
Pemahaman Ibnu Abbas terhadap al-Quran sangat mendalam. Bahkan, dalam konteks tafsir al-Quran, dia tahu apa yang tak diketahui para sahabat senior. Karena kedalaman, juga keluasan, ilmunya tersebut, setelah Rasulullah meninggal, Ibnu Abbas menjadi rujukan bagi para sahabat dan tabiin untuk bertanya berbagai hal tentang agama Islam, khususnya tentang al-Quran dan al-Hadits.
Para sahabat dan tabiin sering datang ke rumahnya untuk menimba ilmu. Akhirnya, rumah Ibnu Abbas menjadi semacam pesantren. Dia tak hanya memberikan pengajian tentang al-Quran, al-Hadits, dan fikih. Dia juga membuka kelas bahasa Arab, sastra Arab, dan sejarah Arab pra-Islam. Ketiga ilmu ini memang sangat dibutuhkan untuk menafsirkan al-Quran.
Saat menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khattab turut mempromosikan keulamaan Ibnu Abbas. Umar kerap mengajaknya dalam forum musyawarah kenegaraan yang dihadiri para sahabat senior.
Mulanya, mereka merendahkan Ibnu Abbas. Mereka berpikir bahwa Ibnu Abbas masih bau kencur, sama seperti anak mereka. Dia dipandang belum layak berdiskusi tentang masalah-masalah serius bersama mereka. Hal ini diceritakan sendiri oleh Ibnu Abbas.
Suatu waktu, Umar mengundang Ibnu Abbas untuk hadir dalam forum sahabat senior veteran Perang Badar. Salah seorang sahabat senior yang menghadiri forum itu mengajukan protes kepada Umar.
"Kenapa Anda mengundang orang yang sepantaran dengan anak kami?"
"Aku," jawab Umar, "mengundangnya karena posisinya yang sudah Anda ketahui." Maksudnya, posisi Ibnu Abbas dalam kancah keilmuan umat Islam saat itu.
Lalu, Umar melontarkan sebuah pertanyaan. Kepada para sahabat senior, dia bertanya tentang tafsir Surah al-Nashr. Surah ini turun berkaitan dengan peristiwa Fathul Makkah yang menandai kesuksesan dakwah Rasulullah dan kemenangan paripurna umat Islam atas kaum kafir Mekah.
Menurut para sahabat senior, surah tersebut mengandung perintah agar umat Islam memuji Tuhan dan meminta ampun kepada-Nya. Tuhan telah menolong umat Islam sehingga Mekah dapat ditaklukkan.
"Bagaimana pendapatmu?" tanya Umar kepada Ibnu Abbas.
Menurut Ibnu Abbas, Surah Al-Nashr adalah isyarat bahwa Rasulullah tidak lama lagi akan meninggal. Ternyata, penafsiran Umar pun demikian. "Aku," ujar Umar, "tidak mengetahui makna ayat(-ayat) itu selain apa yang Anda (Ibnu Abbas) katakan."
Apa pelajaran yang dapat kita petik dari kisah itu? Pertama, sikap sombong juga ada di kalangan sahabat. Meskipun Rasulullah menilai generasi sahabat sebagai generasi terbaik dalam sejarah Islam, para sahabat pada kenyataannya juga manusia.
Karena itu, tidak arif bila kita mengkultuskan generasi sahabat, seolah-olah mereka adalah manusia sempurna yang tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa. Kultus inilah yang menyebabkan sebagian umat Islam terobsesi meniru gaya hidup para sahabat Nabi, terutama secara lahiriah. Karena kultus ini, mindset umat Islam terperangkap pada masa lalu, tidak adaptif terhadap realitas kekinian, tidak antisipatif terhadap kemungkinan-kemungkinan di masa depan.
Kedua, fenomena direndahkannya ulama sudah terjadi sejak dulu. Sejak zaman sahabat Nabi. Maka, bila saat ini ada figur ulama yang direndahkan, dihina, atau pun dinista, kita tidak usah kaget. Tidak perlu terheran-heran, apalagi marah-marah. Santai saja.
Kalau ulama yang direndahkan tersebut memang memiliki ilmu agana yang benar-benar luas dan mendalam, suatu saat reputasi keilmuannya akan pulih dan mencuat kembali. Bahkan, mungkin pengagum dan pengikutnya akan bertambah banyak. Itulah yang dialami Ibnu Abbas.
Jadi, mari menjalani agama Islam secara santai. Mari belajar Islam dengan santai. Tidak usah sambil ngamuk-ngamuk. Tidak usah buru-buru. Ingin cepat menjadi ustadz. Mari belajar Islam pelan-pelan sembari membersihkan hati supaya kita tidak sesat dan menyesatkan.
Ibnu Abbas adalah sepupu Nabi Muhammad. Ibunya, Lubabah, ialah perempuan kedua yang memeluk agama Islam, setelah istri pertama Nabi, yaitu Khadijah. Sejak kecil, Ibnu Abbas sudah hidup bersama Nabi. Saat umat Islam generasi pertama berhijrah dari Mekah ke Madinah, Ibnu Abbas, yang saat itu masih balita, tampaknya juga ikut hijrah.
Di Madinah, Ibnu Abbas tinggal bersama keluarga Nabi. Bersama-sama dengan Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Umar, dan Anas bin Malik, Ibnu Abbas menjadi santri ndalem-nya Rasulullah. Karena itu, hubungan Ibnu Abbas dengan Rasulullah sangat dekat. Dia biasa mengambilkan air wudu dan menyiapkan sandal untuk Rasulullah.
Dia menyaksikan langsung kehidupan sehari-hari Rasulullah dari dekat. Sebagaimana Abdullah bin Umar, Ibnu Abbas sering menyertai Rasulullah dalam perjalanan ke banyak lokasi.
Yang lebih penting, Ibnu Abbas termasuk santri kesayangan Rasulullah. Rasulullah sengaja mengadernya untuk menjadi ulama setelah beliau meninggal. Rasulullah pernah berdoa agar Ibnu Abbas dikaruniai pemahaman mendalam tentang kandungan al-Quran. Tentu saja, doa tersebut terwujud. Ibnu Abbas telah menjadi ulama saat masih muda, sepertinya dalam usia belasan atau dua puluhan.
Pemahaman Ibnu Abbas terhadap al-Quran sangat mendalam. Bahkan, dalam konteks tafsir al-Quran, dia tahu apa yang tak diketahui para sahabat senior. Karena kedalaman, juga keluasan, ilmunya tersebut, setelah Rasulullah meninggal, Ibnu Abbas menjadi rujukan bagi para sahabat dan tabiin untuk bertanya berbagai hal tentang agama Islam, khususnya tentang al-Quran dan al-Hadits.
Para sahabat dan tabiin sering datang ke rumahnya untuk menimba ilmu. Akhirnya, rumah Ibnu Abbas menjadi semacam pesantren. Dia tak hanya memberikan pengajian tentang al-Quran, al-Hadits, dan fikih. Dia juga membuka kelas bahasa Arab, sastra Arab, dan sejarah Arab pra-Islam. Ketiga ilmu ini memang sangat dibutuhkan untuk menafsirkan al-Quran.
Saat menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khattab turut mempromosikan keulamaan Ibnu Abbas. Umar kerap mengajaknya dalam forum musyawarah kenegaraan yang dihadiri para sahabat senior.
Mulanya, mereka merendahkan Ibnu Abbas. Mereka berpikir bahwa Ibnu Abbas masih bau kencur, sama seperti anak mereka. Dia dipandang belum layak berdiskusi tentang masalah-masalah serius bersama mereka. Hal ini diceritakan sendiri oleh Ibnu Abbas.
Suatu waktu, Umar mengundang Ibnu Abbas untuk hadir dalam forum sahabat senior veteran Perang Badar. Salah seorang sahabat senior yang menghadiri forum itu mengajukan protes kepada Umar.
"Kenapa Anda mengundang orang yang sepantaran dengan anak kami?"
"Aku," jawab Umar, "mengundangnya karena posisinya yang sudah Anda ketahui." Maksudnya, posisi Ibnu Abbas dalam kancah keilmuan umat Islam saat itu.
Lalu, Umar melontarkan sebuah pertanyaan. Kepada para sahabat senior, dia bertanya tentang tafsir Surah al-Nashr. Surah ini turun berkaitan dengan peristiwa Fathul Makkah yang menandai kesuksesan dakwah Rasulullah dan kemenangan paripurna umat Islam atas kaum kafir Mekah.
Menurut para sahabat senior, surah tersebut mengandung perintah agar umat Islam memuji Tuhan dan meminta ampun kepada-Nya. Tuhan telah menolong umat Islam sehingga Mekah dapat ditaklukkan.
"Bagaimana pendapatmu?" tanya Umar kepada Ibnu Abbas.
Menurut Ibnu Abbas, Surah Al-Nashr adalah isyarat bahwa Rasulullah tidak lama lagi akan meninggal. Ternyata, penafsiran Umar pun demikian. "Aku," ujar Umar, "tidak mengetahui makna ayat(-ayat) itu selain apa yang Anda (Ibnu Abbas) katakan."
Apa pelajaran yang dapat kita petik dari kisah itu? Pertama, sikap sombong juga ada di kalangan sahabat. Meskipun Rasulullah menilai generasi sahabat sebagai generasi terbaik dalam sejarah Islam, para sahabat pada kenyataannya juga manusia.
Karena itu, tidak arif bila kita mengkultuskan generasi sahabat, seolah-olah mereka adalah manusia sempurna yang tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa. Kultus inilah yang menyebabkan sebagian umat Islam terobsesi meniru gaya hidup para sahabat Nabi, terutama secara lahiriah. Karena kultus ini, mindset umat Islam terperangkap pada masa lalu, tidak adaptif terhadap realitas kekinian, tidak antisipatif terhadap kemungkinan-kemungkinan di masa depan.
Kedua, fenomena direndahkannya ulama sudah terjadi sejak dulu. Sejak zaman sahabat Nabi. Maka, bila saat ini ada figur ulama yang direndahkan, dihina, atau pun dinista, kita tidak usah kaget. Tidak perlu terheran-heran, apalagi marah-marah. Santai saja.
Kalau ulama yang direndahkan tersebut memang memiliki ilmu agana yang benar-benar luas dan mendalam, suatu saat reputasi keilmuannya akan pulih dan mencuat kembali. Bahkan, mungkin pengagum dan pengikutnya akan bertambah banyak. Itulah yang dialami Ibnu Abbas.
Jadi, mari menjalani agama Islam secara santai. Mari belajar Islam dengan santai. Tidak usah sambil ngamuk-ngamuk. Tidak usah buru-buru. Ingin cepat menjadi ustadz. Mari belajar Islam pelan-pelan sembari membersihkan hati supaya kita tidak sesat dan menyesatkan.
Langganan:
Komentar (Atom)